Glamping – Camping Manja

Salah satu alternatif liburan yang enggak ribet di kala long weekend adalah… Glamping!

Akhirnya setelah beberapa bulan mengunjungi Gunung Pancar, terealisasi juga untuk nyobain Glamorous Camping a.k.a Camping Manja.

Rombongan pergi kali ini lumayan random karena terdiri dari 8 orang yang beberapa orang di antaranya baru kenal pada saat itu. But, hey, that’s the fun part! 😀

Amri menjadi ketua rombongan pergi kali ini (karena dia yang booking dan paling ribet hehe). Paket Glamping yang kami pesan adalah Glamping standard yang berarti kita dapat paket tenda (+kasur, listrik, uwow~), alat bbq, meja, etc, minus makanannya. Kata Amri, buat makanan kita belanja aja jadi bisa bbq dan masak sendiri sesuai selera.

Saat kita sampai di Gunung Pancar sudah sore dan mendung. Yang cewek-cewek langsung siapin bumbu dan bahan makanan untuk bbq nanti malam. Gerimis tiba-tiba turun dan akhirnya kami pun masak di bawah hujan. Hihi.

Pengalaman terakhir camping sebenarnya adalah waktu SD dulu (biasa, pramuka). Jadi ini adalah camping (manja) pertama setelah bertahun-tahun kemudian. Enggak usah harus pusing mikirin parit atau diriin tenda karena sama management udah diurus semua. Di dekat tenda kami pun ada satu tenda ranger khusus untuk menjaga dan mengawasi tenda kami. Dan tenda kami pun ditempatkan di satu areal tersendiri jadi tetap terjaga privasi-nya.

20150403_131149
Rombongan mobil 1
20150403_164708
With the whole group!
20150403_201210
Biar cepet masak pake kompor haha (btw kompor-nya bawa sendiri bukan disedain xixi)

Sesi favorit gue adalah sesi masak-masak dan bbq-an. Yah walaupun karena gerimis agak deras, terus enggak ada yang ahli dalam bbq (dalam artian bisa menjaga api di arang tetap nyala haha), jadi sesi memasak ini lumayan memakan waktu. But, it still fun!

20150403_203540
Dinner!
20150403_204521
Bon appetite!

Setelah selesai masak, makan, sesi selanjutnya adalah ngobrol sampai tengah malam sambil bakar jagung. *tetep.

Agenda keesokan hari-nya adalah jalan/trekking ke tempat pemandian air panas. Jadi ada satu resort namanya Giri Tirta Resort yang lokasi-nya gak jauh dari kemah. Dari penunjuk jalan sih bilangnya 1,5km cuman karena jalannya naik turun dan rusak parah udah 90 menit gak sampe-sampe.

Walaupun kaki sakit dan capek, I do really enjoy the trekking. Pemandangannya bagus soalnya.

IMG_3178IMG_3186IMG_3181IMG_3182

Overall, menurut gue Glamping bisa jadi alternatif yang oke buat liburan. Kalau pengen tahu lebih lanjut monggo bisa di cek twitter-nya @PancarCamp dan mention mereka. Menurut gue, manajemen-nya ramah, responsif dan very helpful. 

Glamping enggak bisa disamain kayak naik gunung. Ini lebih kayak piknik lucu anak-anak kota yang jarang main di alam bebas. So, buat yang pencinta gunung mungkin akan kecewa dengan glamping. Tapi buat anak kota yang pengen ngerasain camping tanpa harus ribet, sok atuh bisa dicoba.

Dan yang paling penting adalah karena pergi-nya sama temen-temen, jadi terasa lebih seru karena yang biasanya jarang kumpul karena kesibukan masing-masing bisa punya waktu eksklusif bareng-bareng selama kurang lebih 30 jam. 🙂

Happy glamping!

Marriage is a Business

Few days ago, one of my friends post about her thought about marriage in her path. Well, the theme is about “Marriage is more like a business”. Somehow, I quite agree with her. In my point of view, marriage is not only about romance, sharing feeling, and all of the fairy tale told you. But, it’s more like an agreement between two people (or families, the fact that I live in a country where marriage is more like a family joint) to live and build life together. More than that, not only sharing happiness, romance, bed, bills, house etc, yet sharing problem together and solve the problem together. The interesting part when she mentioned about how multinational corporation works well, because of true commitment and hard-work. So does relationship and marriage. Because the flings can fly into somewhere, but vision will stay.

Well, if marriage is a business, then family is the company. You and your partner is the founder of the company (of course). So what kind of business you intend to build? What kind of partner that you think will fit into your criteria to build the company together?

And if you still guessing about what I’m talking about, well there are two articles that related to this theme: article one and article two.

Ps: nope, the answer is no if you are thinking that I’m going to marry soon. But, sooner or later better to prepare about it from now, rite? 🙂