A Glimpse of Little Tokyo

In the corner of Melawai, Blok M. There is a neighbourhood of japanese store, cafe and restaurant.  Even they had annual event called Ennichisai or Japanese Traditional Festival. After some incidents last year rumour said it discontinued, but they held it again this year! Yeay, so its hard to resist not to come to Melawai.

Coming to this festival reminds me about my teenager’s periode. I grew up watch anime, read manga and of course learning Japanese language. My grandpa once studied there and he’s very eager to know his grandchild learnt Japanese.

Seperti festival pada umumnya, disini ada pertunjukan musik, parade dan stand makanan (pastinya!!). Cuman saking banyaknya makanan jadi bingung mau makan apa. Hihi. Jadi akhirnya cuman jajan takoyaki.

20150509_155915

20150509_143823

Udah jauh-jauh ke Melawai tapi ga cobain restaurant disini itu kayaknya rugi banget. Husen pun mengusulkan makan di Kira-Kira Ginza. Restaurant ini gak terlalu besar sebenarnya. Suasana-nya Jepang banget. Ditambah waktu kita makan pengunjungnya selain gue dan Husen adalah dua laki-laki Jepang. Sebenarnya di bagian belakang restaurant ada ruang makan pakai tatami, sayang-nya udh di reserve jadi kita makan di bagian depan.

20150509_162447_LLS
Si item sok candid :p

Well, I ordered Tekka Maki dan Curry Rice sementara Husen pesan Udon. Fyi, gue tergila-gila dengan masakan Jepang. For me, this is the best curry rice I ever had. Bumbu-nya enak banget dan dagingnya lembuuuut banget. Untuk Tekka Maki-nya sendiri cukup surprise dengan rasa-nya karena nasi-nya dicampur wasabi. Must be very careful karena gue sendiri kurang suka rasa wasabi. Enggak sempet nyobain Udon-nya Husen sih, tapi dia juga bilang enak.

20150509_163204
itadakimasu~!

Karena ada acara Ennichisai ini Melawai rame banget. Jadi-nya enggak sempet keliling buat ke toko lainnya. Penasaran sih sama Papaya, supermarket yang jualan bahan-bahan masakan Jepang. Will come back here for sure!

Kira Kira Ginza Restaurant
Jl. Melawai 9 No. 30, Melawai, Jakarta

Click to add a blog post for Kira - Kira Ginza on Zomato

In The Name of Freedom

Speaking about social movement, ada banyak sekali isu sosial yang menjadi concern setiap orang. Mulai dari HAM, Feminisme, Buruh, Petani, LGBT, Anti Korupsi, you-name-it. Gerakan sosial saat ini sudah memasuki fase yang berbeda dibanding dulu. Era demokrasi saat ini benar-benar mendukung kebebasan berpendapat. Apalagi di era media sosial seperti saat ini. Namun, satu hal yang gue lihat. Pro dan kontra pun terlihat lebih jelas. Pertarungan pendapat sengit tak terelakan. Semua penting. Semua benar. Dan tidak ada yang mau mengalah.

I do believe gerakan sosial itu muncul berawal dari urgenitas. Ada satu kelompok yang merasa tidak terwakili kepentingannya sehingga mereka menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami. And somehow play victim. Membuat perubahan itu tidak mudah. Apalagi merubah persepsi atau pandangan yang sudah mengakar di masyarakat.

Salah seorang kawan menyuarakan kekecewaannya di Path ketika “perbedaan” yang dia alami tidak diterima orang lain. My friend is a transgender, he once a girl and now a man. He said: kenapa orang yang terpelajar dan memiliki wawasan luas tidak terbuka pikirannya. Entah kenapa siang itu gatal untuk mengomentari postingannya. IMHO, walaupun terpelajar dan memiliki wawasan luas kita harus menerima yang namanya perbedaan prinsip. Kita tidak bisa memaksakan prinsip/pendapat kita untuk diterima oleh orang lain.

The world is unfair. Selamanya kita akan menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Merubah sistem butuh waktu dan konsistensi yang sangat tinggi. Dan bagaimana melakukan perubahan itu sendiri? It ain’t easy for sure untuk mengharapkan keadilan hukum. Karena LGBT bukan penyakit dan masih sama-sama manusia. Menjadi berbeda bukan berarti mendapatkan perlakuan yang berbeda karena di mata hukum semua sama.

Sayang, dunia tidak se ideal itu.