26 Years Old

Hari ini tanggal 31 Juli. 26 tahun yang lalu, kedua orang tua gue menikah di tanggal 31 Juli tahun 1989.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-26.

Saat itu Ibu berusia 29 tahun dan Bapak menjelang 31 tahun. Dan tepat beberapa bulan setelah pernikahan, Ibu hamil anak pertama dan melahirkan gue di umur ke 30. Lima tahun kemudian Ibu melahirkan anak kedua yaitu Dita.

Bapak selalu cerita beliau tidak pernah “berpacaran” secara resmi dengan Ibu. Hanya sesekali jalan bersama dan menjalin komunikasi kurang lebih 4 tahun. Bahkan pada saat itu Ibu seringkali pergi dengan laki-laki yang berbeda. Sementara Bapak sibuk menjajal gunung di Indonesia. Hingga pada suatu waktu Ibu menanyakan kelanjutan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius dan di saat yang sama Eyang Papi (ayahnya Bapak) juga menanyakan hal yang sama ke Bapak. Setelah sholat dan memohon petunjuk kepada Allah SWT, Bapak pun yakin mengambil keputusan bahwa Ibu memang jodohnya. Kemudian Bapak melamar Ibu secara resmi dan beberapa saat kemudian mereka menikah.

Kata Bapak, jodoh adalah rahasia Allah. Proses menjelang menikah pun Bapak jalani dengan sungguh-sungguh agar dimudahkan jalannya. Salah satu-nya dengan berpuasa. Mendekatkan diri dengan Allah.

Seperti jodoh, lahir di keluarga ini pun merupakan salah satu rahasia Allah. Memiliki Bapak dan Ibu sebagai orang tua adalah anugerah Allah yang paling besar. Mereka bukan berarti tanpa cela, seperti manusia lainnya Bapak dan Ibu juga melakukan kesalahan. Tapi benar ada-nya kalau kasih sayang orang tua itu sepanjang masa.

Aku masih ingat Bapak selalu bekerja keras untuk dapat mencukupi kami. Pendidikan adalah nomor 1. Walaupun kondisi ekonomi memburuk, semua biaya pendidikan tidak pernah dikurangi. Selain masuk sekolah swasta, les-les seperti bahasa inggris, matematika, fisika (bahkan les vocal) tetap berjalan. Beliau rela untuk tidak makan asalkan kami semua selalu makan makanan yang bergizi. Enggak pernah ada cerita kami kekurangan makanan.

Aku tidak akan pernah lupa ketika Ibu mendampingi di saat-saat kritis. Waktu kelas 1 SMA, ada masa dimana ke sekolah harus dari jam 4 pagi untuk LDK sementara malamnya konser karawitan hingga jam 11 malam setelah itu harus ke basecamp demi menyelesaikan tugas LDK. Hal itu berlangsung selama satu minggu. What a sleepless week! And she’s there when I need an arm to hug me and strengthen me. Saat UN SMA, tiba-tiba aku sakit dan enggak bisa bangun dari tempat tidur sama sekali. Akhirnya tetap memaksa ke sekolah untuk mengikuti ujian (yang sakit fisiknya, bukan otaknya, I still can do the exam). Ibu ada disana, menunggu di Masjid sekolah tanpa berhenti dzikir untuk menguatkanku.

Enggak akan ada yang bisa mampu menyaingi perjuangan mereka dalam hal cinta kepada kami, anak-anak Bapak dan Ibu.

Dan apa yang sudah saya lakukan untuk membalas mereka?

Belum ada apa-apanya. Bahkan sebagai anak seringkali membangkang atau melanggar. 😦

Sebagai orang tua, bapak dan ibu cukup demokratis dan liberal. Kami semua cukup dewasa untuk dapat mendiskusikan segala hal secara terbuka. Walaupun tetap saja ada batasan-batasan yang mereka tentukan. Dan hal yang paling sederhana yang bisa aku lakukan sebagai anak adalah menuruti permintaan mereka untuk membahagiakan mereka. Supaya mereka tidak khawatir.

Kesedihan yang kurasakan tidak apa-apanya  dengan kesedihan yang mereka rasakan. Kalau mereka mampu berjalan di atas api untuk membahagiakan kami, maka aku pun harus bisa melakukan hal yang sama.

Screenshot_6

Decision

al imran

Honestly, I am not a kind of a religious person. Mungkin memang gue memakai jilbab, tapi tingkat iman tidak bisa dilihat dari jilbab. Gue jauh dari sempurna.

Tapi gue percaya setiap mahluk hidup pasti memiliki cara-nya sendiri berkomunikasi dengan Tuhan, Allah SWT. Dan begitu pula sebaliknya. Gue sendiri masih dalam proses belajar dalam mencari arti dari semua tanda yang Dia pancarkan. Yes, I do believe in signs. I do believe my own feeling. I’m kind of person who do something based on her instinct.

Made a decision is never easy. Especially if it related with other persons’ (with ‘s’ so its plural) feeling. I hate myself when I hurt others. I hate more because they are my VIP. After all, what I did is only hurting others feeling. I feel so childish, irresponsible, egoist, stone-head, you-name-it. Then I prayed, Istikharah. Then I made the decision.

It’s hard. Really hard. The next few days I felt lost. I knew I made the right decision. But still, some part of me is gone. Even I went to Istiqlal (don’t ask why, it’s just my instinct), prayed Maghrib and cried.

Then I realize one thing, maybe, we, human, create a plan but God always has a bigger plan.

All I have to do is ‘put my trust in Allah’.

Because He always there, He always knows and He is the Best.

And I feel relieve. Especially after He shows me why my decision is right. Subhanallah. Alhamdulilah.

Thank you, God.

Now, I will put everything in You. 🙂

Quarter Life

Hell, I wasn’t writing anything for weeks.
As I already mentioned in previous post, I’ve been busy with #macmacmia during Ramadhan month. And hell yeah it was super exciting. I never expect I would enjoy my day in kitchen or spent times in traditional market. Alhamdulilah, there are a lot of ordered for #macmacmia.

Another thing is, I turned 25 on 25th June. Quite a ryhme. Being 25 years old is quite frightening at first. But, I do realize something. God blesses me with His love through families, friends, and him. So, I’m officially in a stage of quarter life (hopefully not a crisis haha). Bianvenue nouveau moi!

I have a lot of plans for myself. From now on, I promise to be more focus, concern and do my best to achieve my goals. Bon Courage!

image