New Kid on The Block: Hegemony Coffee & Eatery

Ketika gue suka akan sesuatu gue punya kecenderungan untuk menularkan ‘rasa suka’ tersebut ke orang-orang di sekitar gue untuk menyukai hal tersebut. Termasuk coffee shop yang akhir-akhir rajin gue datangi. Walaupun gue dan dita, adek gue, sering coffee shop hopping ke berbagai tempat, at least once a week, gue akan mendatangi coffee shop baru di daerah Rawamangun: Hegemony Coffee & Eatery.

The Menu

Kalau F.R.I.E.N.D.S punya Central Perk, atau How I Met You Mother punya MacLaren’s Pub, maka I finally found my own version of a place to hang out with friends.

Kesan pertama yang gue rasakan ketika gue masuk ke coffee shop ini adalah hangat dan sangat homey. Ketika masuk ke dalam hegemony, akan disambut dengan senyum ramah barista-nya yang menawarkan pilihan minuman. Dherryl, barista yang menyapa gue saat itu (dan yang akhirnya menjadi barista favorit gue), menanyakan apakah gue suka kopi atau tidak. Saat pertama kali datang gue memesan hot chocolate, selanjutnya setiap gue datang kesini gue selalu memesan hot cappuccino (yang selalu gue minum tandas dan lupa gue foto hehe).

Kesan kedua yang membuat gue makin betah disini adalah gue suka dengan pilihan snack-nya. Enak pake banget! Dan enggak cukup mesen sekali. Favorite gue adalah cheesy dip-nya french fries, chicken tacos (dimana gue selalu minta tambahan cheesy dip buat chicken tacos-nya hehe), dan chocolate churros.

2015-09-06 20.52.51
French Fries, Chicken Tacos, Chocolate Churros
Red Velvet Latte, Green Tea Latte, Cookies Frappemony, Hot Chocolate

Kesan ketiga yang membuat gue makin betah dan akhirnya setiap Minggu selalu rutin datang kemari adalah pilihan musik-nya sesuai dengan selera gue. Payung Teduh, Etta James, The Beatles, you name it. Apalagi kalau datang di waktu yang tepat, ketika pengunjung yang hadir bisa dihitung jari, only you with your cappuccino, and focus on your laptop. Or when you gathered with your friends and you can talk about anything and the time feels like stop moving.

I just love every details in this lovely coffee shop, love their free and young spirit, their warm ambience and of course their coffee.

PhotoGrid_1441547749609

And just like home, wherever how far you’ll go, at some point you’ll always get back home.

And this is home (at least for some people who regularly hanging out in here).

Thank you for bringing this decent coffee shop in this neighborhood, never stop learning guys! 🙂

Hegemony Coffee & Eatery
Jalan Sunan Sedayu No. 7
Rawamangun, Jakarta Timur

Hegemony Coffee & Eatery Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

It’s Personal, Not Business

I’m a workaholic. It’s something that I must admit that I love to work, keep myself busy is my desire. Walaupun gue mengaku suka malas-malasan (siapa sih yang enggak?), gue juga menikmati ketika gue sibuk di kantor, pulang malam, atau dengan kegiatan baru gue sekarang, @macmacmia.id.

I’m still working 9 to 5 every Monday to Friday dan kantor baru gue sekarang issue-nya berkaitan erat dengan passion gue. So I’m really grateful because I am in my position right now. Thanks God. Ditambah lagi kesibukannya enggak (atau mungkin belum) segila dulu waktu di kantor lama (yang membuat gue enggak punya kehidupan sama sekali karena kerja lebih dari 10 jam almost everyday, haha no complaint though :D). Fleksibilitas yang gue miliki saat ini gue manfaatkan untuk menekuni passion gue yang lain di bidang makanan.

Macmacmia adalah sisi lain dari gue. The activities are combined from things I love to do: organizing, interaction with other people, shopping, financial plan, food-tasting and of course cooking. And the most activities that I love so much is interaction with other people. Some of them are my friends, but some are strangers. People that from nowhere contact me and willing to order macmacmia. Si bayi kecil berwujud macaroni schottel.

So, doing macmacmia is really personal, not a business. Gue selalu suka berkenalan dengan orang baru, menggali rasa penasaran mereka tentang si bayi kecil ini. Menebak-nebak reaksi mereka saat pertama kali mencicipi macmacmia. Sukur-sukur pada ketagihan sama macmacmia hehehe.

So, from this post I would like to say thanks in a million for all people who trusted macmacmia. Either for their daily snack, atau untuk seserahan lamaran, or anything. Semoga plan-plan gue ke depannya soal macmacmia bisa berjalan. Dan semoga gue lebih terdorong lagi untuk merealisasikan menu baru yang selama ini belum berani gue keluarkan 😀

It’s Okay To Be Not Okay

INSIDE-OUT-18

Have you watched the newest Pixar/Disney movie Inside Out? I must say that one was a very enchanting movie. Brilliant. It’s time Disney create a movie based on “what if feeling have feeling”.

As human, I must say that how brain works its quite complex. Especially related to feeling, emotion! Menurut gue brilian karena film ini bisa membuat orang lain paham mengenai cara kinerja emosi yang cukup kompleks. Tokoh utama dari film ini adalah 5 jenis emosi yang terdapat di diri Riley, seorang anak umur 11 tahun. Secara sederhana film ini menjelaskan bahwa ada 5 emosi dasar di setiap diri manusia yaitu: Joy, Sad, Anger, Fear dan Disgust.

Umur 11 tahun merupakan umur yang cukup kompleks karena merupakan umur transisi dari emosi anak kecil menuju remaja. Apalagi ketika dihadapkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Dan film Inside Out bisa menggambarkan dengan baik mengapa bisa terjadi respons emosi seperti yang dialami Riley.

Dalam film ini diceritakan bahwa dari kelima emosi tersebut, Joy menjadi team leader untuk mengendalikan emosi Riley. So, Riley is a cheerful girl, friendly, goofy, and lovable. Until, one day, their parents decided to move to other city. San Fransisco. Perubahan pertama yang sangat signifikan bagi Riley yang berumur 11 tahun. Karena berarti dia harus pergi meninggalkan kota yang dia cintai, teman-temannya serta klub hockey. Belum lagi San Fransisco tidak seperti yang diharapkan (dalam bayangan anak umur 11 tahun yes). Rumahnya lebih kecil, mobil pindahan yang membawa barang-barangnya nyasar ke kota lain, makanannya tidak enak (a brocoli in pizza, I feel so sorry). And so on.

Joy berjuang untuk tetap membuat Riley berpikiran positif dan bahagia. Namun, Sad (yang menurut pengakuannya) merasa di luar kendali untuk melakukan kontrol atas pikiran Riley sampai Riley menangis di depan kelas saat perkenalan diri. Riley berubah. She’s not a cheerful girl anymore. Perubahan itu yang membuat Joy dan Sad berkonflik sehingga mereka terlempar dari Headquarters. Dan emosi Riley dikendalikan oleh Anger, Fear dan Disgust.

Oke, spoilernya cukup sampai disini haha. My point is, film ini menggambarkan kalau boleh kok sesekali untuk merasa unhappy, mellow or sad. Karena ketika kita memaksakan diri untuk tetap happy dan tidak memberikan ruang untuk emosi yang lain, akan terjadi ketidaksinkronan kita dalam merespons perubahan ataupun kejadian di sekitar kita.

Pasca nonton Inside Out di sekeliling gue pun jadi demam dengan teori-teori psikologi dan human behavioral. Salah satu artikel yang menarik gue baca adalah ini. Kalau temen gue sendiri komentar kalau film ini bisa menjelaskan kenapa akhirnya banyak komedian yang bunuh diri. Because sometimes orang-orang yang punya image sebagai ‘happy people’ dipaksa untuk terus menerus merasa ‘happy’. Dan mereka dianggap ‘aneh’ kalau tidak keliatan ‘happy’ seperti biasa. Seperti yang dialami oleh Riley. Karena image-nya, orang tuanya expect Riley untuk terus menerus menjadi good girl dan happy padahal yang dialami-nya berhak untuk membuatnya merasa tidak senang (remember, she’s only 11 years old).

So, the message I got from this movie is it’s okay to be not okay. It’s okay to give a space for yourself, to admit that everything sometimes don’t go as your plan, sometime’s world is rude, and life seems unfair. Admitting is first stage before you understand. Dan di film ini, Sad dibutuhkan untuk kita lebih memahami. Untuk bersimpati.

Sadness-understand

Ada yang belum nonton film ini? Go watch it and you won’t regret it.

Once again, Disney and Pixar always gave best collaboration. Well done. 🙂