Solo Solitude

poster-film-istirahatlah-kata-kata.jpg

Hari Minggu, 15 Oktober, PPIA ACT mengadakan screening film Istirahatlah Kata-Kata/Solo Solitude yang juga turut serta mengundang Yosep Anggi Noen (sutradara film tersebut) dan mas Wahyu Susilo (adik dari Wiji Thukul) untuk sesi diskusi di akhir penayangan film. Solo Solitude menceritakan kisah Wiji Thukul dalam pelariannya setelah beliau dianggap berbahaya oleh pemerintah Orde Baru. Berbahaya karena, puisi yang dia buat mampu menggerakan orang banyak untuk melawan rejim pemerintah saat itu. Kesederhanaan kata-katanya, kejujuran pahit yang ditampilkan, hingga saat ini mampu mendorong orang untuk bergerak dan melawan penindasan yang terjadi. Film ini menunjukan bahwa pada akhirnya Wiji Thukul tetaplah manusia biasa yang juga bisa memiliki rasa takut. Terutama dalam masa persembunyian, rasa takut dan cemas benar-benar bisa digambarkan di film ini.

Film ini dibuat sebagai pengingat bahwa kita tidak boleh lupa pernah terjadi masa rejim otoritas selama 32 tahun di Indonesia. Dimana pada masa itu, ketakutan dibentuk agar manusia tunduk pada penguasa. Sebuah kenyataan pahit yang ternyata banyak orang (terutama millenials) tidak tahu. Pada saat sesi tanya-jawab, ada beberapa orang yang menyampaikan kira-kira, “sebagai generasi millenials, kami tidak tahu banyak mengenai sejarah Orde Baru”.. what?? Namun, bukan salah mereka kalau mereka tidak tahu, pada saat itu mereka masih terlalu kecil atau bahkan belum lahir.

Saya sendiri pada saat itu berumur 8 tahun. Tapi sebagai anak 8 tahun, ingatan tersebut bukanlah ingatan lalu. Saya ingat dengan jelas bagaimana mall di dekat rumah dijarah dan dibakar massa hingga asap hitam pekat tersebut terlihat dari rumah saya. Saya ingat banyak warga di sekitar rumah saya hilang dan tidak kembali akibat terjebak kerusuhan atau menjadi korban dari kebakaran mall tersebut. Saya ingat bisnis Bapak mati karena iklim bisnis memang lesu saat itu. Saya ingat dengan jelas bagaimana toko-toko di pasar di tulis “milik pribumi” agar tidak menjadi korban penjarahan dan amuk massa akibat sentimen terhadap etnis Tionghoa. Saya ingat dengan jelas saat Presiden Soeharto turun dari jabatannya, dan banyak orang merakan kemenangan sesaat tersebut. Saya ingat partai politik yang tadi-nya hanya tiga, dengan ada-nya demokratisasi menjadi banyak. Semua orang tergila-gila membuat partai politik. Entah karena ingin menyuarakan aspirasi politiknya atau berebut berada di kursi penguasa. Mungkin ingatan anak kecil umur 8 tahun itu lah yang mendorong saya untuk mengambil jurusan Politik pada saat S1 dulu dan sempat bekerja di bidang HAM.

Cerita Wiji Thukul hanyalah satu dari ratusan kisah pilu lainnya. Dan terinspirasi dari Wiji Thukul, saya percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan dan mampu menggerakan. Dan dengan tetap menulis mungkin adalah aksi kecil dari saya untuk terus menggulirkan issue agar kita tidak boleh lupa dengan apa yang terlah terjadi sebelumnya. Betapa kuat peran sejarah agar mengingatkan kita dalam mengambil langkah ke depannya. However, sejarah yang mana yang harus kita baca dan percaya? Di situ intuisi dan kata hati berperan penting untuk memilah mana yang kamu anggap benar. Karena kebenaran akhirnya adalah hasil konstruksi mereka yang memegang kuasa, toh? 🙂

Remember, #pilpres2019 is near (if you know what I mean haha).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s