Aceh Trip – January 2018

Salah satu hal yang paling ditunggu saat summer break di Indonesia adalah trip ke Aceh. Its never been in my bucket list actually. But since berkawan karib dengan orang Aceh selama kuliah di Australia dan bersahabat berbelas tahun dengan orang Aceh juga, provinsi tersebut menjadi pilihan liburan kali ini. Selain itu, karena udah pernah ke Papua dan berhasil melihat matahari pagi yang terbit pertama di Indonesia, kali ini gue juga ingin menginjakan kaki di sisi paling barat Indonesia yaitu titik 0 kilometer di Pulau Sabang.

Kilometer Nol Indonesia @ Sabang - Aceh

Menurut gue, daya tarik utama dari Aceh adalah Pulau Sabang dan makanan Aceh yang enak-enak. Oh, and don’t forget about the coffee! Jadi selama 3 hari pertama gue menghabiskan waktu di Pulau Sabang. To be honest, gue suka banget sama tempat nginep gue di Freddies Santai Sumurtiga. Mereka punya private beach sendiri dan restorannya pun makanannya paling enak se-Sabang raya. You should try their breakfast and dinner experience in Freddies! The dessert that we had (apple-something-cake) super enak. Gue sama temen-temen gue sampe minta tambah lol

Kalau gue kalah sama rasa mager gue, mungkin gue akan leha-leha doang di hammock sambil bobok-bobok lucu. Tapi karena teman-teman gue super ambisius, jadi lah kami pergi ke pulau Rubiah untuk snorkeling. Orang-orang disana bilang, rombongan gue datang di saat yang tepat karena hadir ketika lewat musim liburan jadi Sabang lagi sepi dan nyaman banget.

IMG_2353 2IMG_3450IMG_2776

Pulang ke Banda, sebenarnya agenda kami tidak hanya makan-makan. City landmark yang wajib dikunjungi tentu saja Museum Tsunami, Masjid Raya dan Monumen PLTD Apung. Sejujurnya melihat perkembangan pembangunan Aceh saat ini cukup mesmerising, mengingat peristiwa Tsunami yang terjadi tahun 2004. Its so heartbreaking actually to watch the documentary of tsunami. Kayaknya karena hati gue lemah jadinya malah ga ambil foto-foto saat datang ke museum tsunami or anything related to tsunami. Dan sebagai pensiunan food blogger malah banyak foto-foto  makanan haha.

I do really love culinary experience in every city. For me, food is a solid identity dan dari makanan pun kita bisa mengenal karakter masyarakat di daerah tersebut. Misalkan, gue enggak sangka kalau orang Aceh ternyata suka banget minuman manis. Gue pikir, orang Jawa Tengah doang yang kalau minum nambahin gula berlebihan. Ternyata di Aceh juga gak ada bedanya. Jadi buat kalian yang enggak suka manis, be careful saat pesen kelapa, kopi atau teh, pastikan untuk meminta gula-nya dikurangi atau enggak pakai sama sekali. Kemudian ada salah satu rumah makan yang menyajikan “chicken steak” but for me itu persis kayak selat solo atau steak solo! Makanan favorit gue adalah ayam tangkap! Karena digoreng dengan daun kari dan daun pandan. Saking suka-nya gue sampe beli 3 box buat oleh-oleh ke Jakarta.

Selain makanan, gue suka banget dengan pilihan minuman di Aceh. Apalagi kopi!

Yang bikin khawatir dari semua ini adalah, gue takut diabetes dan kolesterol gue naik hahaha. Dan sejujurnya seminggu di Aceh gue naik 2kg (ups), but glad its back to normal again (intermittent fasting my saviour!).

Speaking of matahari. Di Aceh, gue pun berkesempatan untuk melihat matahari terbenam terakhir di Indonesia. So my life is (almost) complete.  ❤

38799837165_fe748c5f26_k

Thank you, Aceh! You have my heart now.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s