Movie Review: Dilan 1990

Mumpung lagi di Jakarta tentu saja salah satu yang wajib dilakukan adalah nonton bioskop. Lebih spesifik lagi, kalau bisa menonton film Indonesia di bioskop. I really love go to the movies! Bahkan di Canberra yang harga tiket bioskop harga-nya amit-amit mahalnya + fasilitas bioskop-nya ga ada apa-apanya dibanding sama Jakarta, enggak mengurungkan niat gue jadi member di Palace Cinemas (its a good deal! you get discount price for two people. Jadi kan lumayan bok kalau movie-date lol). Nah maka-nya kemarin gue memutuskan nonton film Dilan 1990 setelah menimbang-nimbang dan membaca review berbagai macam orang.

I love romantic movies macam Love Actually, You’ve Got Mail, etc. But when it comes to kalimat romantis, gombal, dan penuh kata manis, I can’t help myself not to cringe everytime I heard about it. Apalagi iklan Dilan 1990 ini masif banget yang di radio, ngedengerinnya aja bikin gue “iyuuuh” lol. But still, I wanna watch!

Film ini hadir dengan sederhana, manis dan apa ada-nya. You could see betapa polosnya dedek-dedek itu dalam mengintrepretasi-kan cinta. Dilan pun hadir bukan cuman sekadar bermodal kata manis tapi juga unik. Karena ke-random-an dia itu sih jadi daya tarik utama-nya. Milea pun tipikal anak SMA baik-baik yang banyak disukai semua orang, cantik dan polos.

However, film ini pun menunjukan bahwa cinta tipikal anak SMA seperti ini adalah sesuatu yang tidak pernah gue alami. Bahwa pada saat itu gue beranggapan only beautiful people deserve love. Maklum jaman SMA aku tipe yang tidak percaya diri dan pemalu. Sepanjang menonton film aku pun tidak berasa nostalgia. Oh but I do remember I spent most of the nights on the phone talking with gebetan masa dulu yang berujung friendzone. Itu pun telpon berjam-jam biasanya berakhir gue baca komik dan dia main game (dengan telpon masih tersambung). Enggak ada cerita gombal-gombalan di telpon lol.

Anyhow, it’s really nice to see perkembangan film Indonesia saat ini. Walaupun Dilan bukan film favorit gue, tapi ini sebuah kemajuan dengan genre cerita kisah kasih masa remaja. Cerita ringan yang bakal seru ditonton di rumah kala weekend kalau enggak kemana-mana.

Mungkin hidup gue udah pahit banget ya, ada masa nya gue enggak percaya dengan cinta. Once I told one of my dates that “love is artificial”. Hingga saat ini pun dalam menjalin hubungan gue akan lebih mengutamakan chemistry, value hidup yang sama, dan dedikasi untuk membangun hubungan tersebut. Life is so precious to spend with wrong person. But each person is a lesson anyway. Makanya ketika nonton Dilan banyaknya gue mengangkat alis dan tertawa kecil melihat kepolosan film tersebut. Oh I wish life is that simple 🙂

Solo Solitude

poster-film-istirahatlah-kata-kata.jpg

Hari Minggu, 15 Oktober, PPIA ACT mengadakan screening film Istirahatlah Kata-Kata/Solo Solitude yang juga turut serta mengundang Yosep Anggi Noen (sutradara film tersebut) dan mas Wahyu Susilo (adik dari Wiji Thukul) untuk sesi diskusi di akhir penayangan film. Solo Solitude menceritakan kisah Wiji Thukul dalam pelariannya setelah beliau dianggap berbahaya oleh pemerintah Orde Baru. Berbahaya karena, puisi yang dia buat mampu menggerakan orang banyak untuk melawan rejim pemerintah saat itu. Kesederhanaan kata-katanya, kejujuran pahit yang ditampilkan, hingga saat ini mampu mendorong orang untuk bergerak dan melawan penindasan yang terjadi. Film ini menunjukan bahwa pada akhirnya Wiji Thukul tetaplah manusia biasa yang juga bisa memiliki rasa takut. Terutama dalam masa persembunyian, rasa takut dan cemas benar-benar bisa digambarkan di film ini.

Film ini dibuat sebagai pengingat bahwa kita tidak boleh lupa pernah terjadi masa rejim otoritas selama 32 tahun di Indonesia. Dimana pada masa itu, ketakutan dibentuk agar manusia tunduk pada penguasa. Sebuah kenyataan pahit yang ternyata banyak orang (terutama millenials) tidak tahu. Pada saat sesi tanya-jawab, ada beberapa orang yang menyampaikan kira-kira, “sebagai generasi millenials, kami tidak tahu banyak mengenai sejarah Orde Baru”.. what?? Namun, bukan salah mereka kalau mereka tidak tahu, pada saat itu mereka masih terlalu kecil atau bahkan belum lahir.

Saya sendiri pada saat itu berumur 8 tahun. Tapi sebagai anak 8 tahun, ingatan tersebut bukanlah ingatan lalu. Saya ingat dengan jelas bagaimana mall di dekat rumah dijarah dan dibakar massa hingga asap hitam pekat tersebut terlihat dari rumah saya. Saya ingat banyak warga di sekitar rumah saya hilang dan tidak kembali akibat terjebak kerusuhan atau menjadi korban dari kebakaran mall tersebut. Saya ingat bisnis Bapak mati karena iklim bisnis memang lesu saat itu. Saya ingat dengan jelas bagaimana toko-toko di pasar di tulis “milik pribumi” agar tidak menjadi korban penjarahan dan amuk massa akibat sentimen terhadap etnis Tionghoa. Saya ingat dengan jelas saat Presiden Soeharto turun dari jabatannya, dan banyak orang merakan kemenangan sesaat tersebut. Saya ingat partai politik yang tadi-nya hanya tiga, dengan ada-nya demokratisasi menjadi banyak. Semua orang tergila-gila membuat partai politik. Entah karena ingin menyuarakan aspirasi politiknya atau berebut berada di kursi penguasa. Mungkin ingatan anak kecil umur 8 tahun itu lah yang mendorong saya untuk mengambil jurusan Politik pada saat S1 dulu dan sempat bekerja di bidang HAM.

Cerita Wiji Thukul hanyalah satu dari ratusan kisah pilu lainnya. Dan terinspirasi dari Wiji Thukul, saya percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan dan mampu menggerakan. Dan dengan tetap menulis mungkin adalah aksi kecil dari saya untuk terus menggulirkan issue agar kita tidak boleh lupa dengan apa yang terlah terjadi sebelumnya. Betapa kuat peran sejarah agar mengingatkan kita dalam mengambil langkah ke depannya. However, sejarah yang mana yang harus kita baca dan percaya? Di situ intuisi dan kata hati berperan penting untuk memilah mana yang kamu anggap benar. Karena kebenaran akhirnya adalah hasil konstruksi mereka yang memegang kuasa, toh? 🙂

Remember, #pilpres2019 is near (if you know what I mean haha).

My Lawyer Mr Jo/Neighborhood Lawyer Jo Deul Ho (KDrama Review)

Neighborhood-Lawyer-Jo-Deul-Ho-Poster2

Kalau mau nonton serial Korea yang (lumayan) lakik banget dan keluar dari jalur mainstream (romance ala Korea).. you can watch this series. My Lawyer Mr. Jo atau Neighborhood Lawyer Jo Deul-Ho.

Serial yang terdiri dari 20 episode ini menceritakan Jo Deul-Ho sebagai tokoh utama, seorang Neighborhood Lawyer (kalau disini pengacara yang nanganin kasus-kasus pro bono). Di episode pertama Jo Deul-Ho awalnya adalah seorang jaksa yang terkenal dengan keganasannya dan tidak kenal ampun, namun di saat sedang menangani kasus yang melibatkan seorang pengusaha (CEO Jung) akhirnya Jo Deul-Ho malah justru dituduh menerima sogokan. Hingga akhirnya Jo Deul-Ho harus dipecat dari jaksa, kariernya hancur, di saat yang bersamaan diceraikan oleh istri-nya sampai dia menjadi homeless.

neighborhood-lawyer-jo-deul-ho_160328_1276.07

Setelah tiga tahun hidup menggelandang di jalanan, Jo Deul-Ho berubah menjadi orang yang ignorance karena institusi yang dia percaya selama ini justru mengkhianati diri-nya. Namun secara tidak sengaja, Jo Deul-Ho bertemu kembali dengan “adik”-nya, Kang Il Go, (sebenarnya Jo Deul-Ho adalah seorang yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan dan memiliki banyak adik asuh) yang sempat menjadi tersangka terhadap kasus kebakaran pabrik yang menyebabkan kematian seorang tuna wisma.

Kang Il Go bukanlah tersangka sesungguhnya melainkan Michael Jung, anak dari pengusaha CEO Jung. Kasus itu lah yang menyebabkan Jo Deul-Ho dipecat dari pekerjaannya sebagai jaksa. Hingga muncul tersangka baru, yang juga merupakan tuna wisma, yang dituduh melakukan pembakaran dan pembunuhan di pabrik tersebut. Setelah reuni sebentar, Kang Il Go tiba-tiba menjadi korban tabrak lari dari truk yang “tidak” sengaja melintas. Di situ lah Jo Deul-Ho tergerak untuk menjadi pengacara pembela dari tersangka baru untuk membuktikan bahwa pelaku sebenarnya adalah Michael Jung.

Awalnya serial ini terkesan ingin menunjukan bagaimana mereka yang punya uang memiliki power lebih untuk mengatur hukum. Dilihatkan CEO Jung yang merupakan pengusaha yang membuat image dirinya sebagai pilar ekonomi Korea dapat mengatur jaksa-jaksa, membeli orang, sehingga memudahkan bisnisnya berjalan cepat tanpa halangan.

Tapi penyakit yang sesungguhnya adalah ketika si penegak hukum atau mereka yang memiliki jabatan politik telah dibutakan oleh uang dan kekuasaan sehingga mau melakukan apa saja untuk meraih jabatan tertinggi.

Yang awalnya Jo Deul-Ho berusaha untuk mengungkapkan praktik-praktik ilegal dari usaha CEO Jung hingga mengungkapkan kasus korupsi yang terjadi di Kantor Kejaksaan Tinggi Korea.

And what I love most dari film ini adalah sisi-sisi humanity yang ditonjolkan. Karena kasus yang ditangani adalah membela mereka yang lemah (tuna wisma, pemilik usaha makanan yang diusir paksa dari kontrakannya, ibu-ibu yang anaknya meninggal karena salah guna minuman kalengan), jadi banyak hal yang bikin gue berkaca-kaca.

Film ini juga menunjukan menumpas kasus korupsi enggak semudah itu, terutama ketika mereka yang terlibat adalah orang terdekat. Sehingga muncul pertentangan values antara prinsip untuk menegakan hukum tapi di satu sisi ingin melindungi harga diri keluarga.

Salut banget dengan aktor-aktris yang mainnya totalitas disini. CEO Jung yang diperankan oleh Jung Won-Joong bagus banget mainnya hingga yang awalnya benci setengah mati sama dia terus berujung jadi kasian karena punya anak gak tau diri kayak Michael Jung hihihi.

I gave this series 4,2/5

jodeulho16-00310
The Dream Team