#MeToo

We live in unfair world. When more powerful people oppressed the weakest group. When bad people run the bad society with bad system. Its systemic and happened far far before when I was born.

#MeToo hashtag was flooding my twitter timeline few weeks ago. The point is to show that many many many people that having experience on sexual assault and sexual harassment so you don’t feel alone. But, so many people experienced that make me sick and sad because how cruel the world can be. Its kinda affecting me actually. Because I don’t see myself as an outsider who feel sad because of the story. But more as one of them. Who feel worthless, tiny, small, and not worth because of the event.

And it is not about women, but many people can be the victim. Old, young, men, women, trans, etc. Its make me sick because of the world can be cruel. And what make it more sick is because people tend to blame the victim. Thats what makes people silent, burry their sadness and grieve over their pain alone.

As writing this, my hands still feel cold, and the anger is still in my heart. Holding grudge won’t let you go anywhere. This courage to write in this sphere, at least helps me to admitting that I won’t be affected by this pain anymore. Because what doesn’t kill you, will make you stronger.

Privilege

privilege
ˈprɪvɪlɪdʒ
a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group.

Setelah seminggu ribut-ribut soal ‘pribumi’ di belahan bumi Jakarta, otak gue yang kusut sama tugas jadi makin kusut liat apa yang sedang terjadi di Jakarta. Ketika di Australia lagi ribut-ribut soal issue energi dan marriage equality,  di Indonesia ngeributin hal-hal seperti ‘bahaya laten komunis‘, ‘pribumi‘, etc. Apalagi kalau udah diskusi sama temen WN Australia dan membandingkan politik yang terjadi di antara Indonesia dan Australia, makin runyam dan mengutuk kenapa perdebatan politik dan yang menjadi perhatian publik di Indonesia enggak substantif. Di situ lah gue sadar kalau membandingkan antara kedua negara tersebut tidak adil karena memiliki privilege yang berbeda.

Sebagai minority yang tinggal di Australia untuk kuliah, ada banyak hal yang membuat gue sadar kalau ada hal-hal yang tidak bisa taken for granted. Karena ketika gue kembali ke Indonesia, gue masuk ke kelompok-kelompok dengan ‘advantage’ dan ‘privilege’ nya. Di Indonesia sendiri, gue memiliki ‘privilege’ karena keturunan Jawa, lahir besar di ibu kota, beragama Islam, mengenyam pendidikan hingga S1, dan bisa berbahasa asing. Menjadi bagian dari kelompok mayoritas di suatu tempat itu sudah menjadi sebuah privilege sendiri. Ada banyak kemudahan-kemudahan yang gue dapatkan karena privilege tersebut, seperti koneksi dengan orang-orang yang tepat, informasi terbatas pada kelompok tertentu, dan banyak hal lainnya. Hingga akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah S2 di Australia, menurut saya salah satu faktor yang mendukung karena saya memiliki privilege tersebut. Memang, kita tidak boleh melupakan hal-hal lain seperti dedikasi dan komitmen yang juga membantu faktor penting. Tapi saya memulai dari garis start yang berbeda. Saya harus mensyukuri karena orang tua saya memberikan privilege dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di salah satu sekolah terbaik di Jakarta dan mengijinkan saya mengejar mimpi saya (yes, bagi perempuan di Indonesia mendapatkan ‘ijin’ untuk mengejar mimpi adalah sebuah privilege. Do you realise that many woman can’t pursue their dream because ada yang disuruh menikah cepat dan berkeluarga? Ijin mengejar mimpi dari orang tua adalah privilege bagi saya).

Ketika sampai di Australia, saya pun mendapatkan privilege tersendiri. Mendapatkan kesempatan kuliah di salah satu Universitas terbaik, hidup berkecukupan, akses pendidikan dan informasi yang tidak terbatas, lingkungan akademis untuk networking di masa depan dan banyak hal lainnya. Saya sadar masih banyak orang yang tidak memiliki kesempatan yang sama disini. Contoh ekstrem-nya adalah homeless people. Contoh tidak ekstrem adalah teman-teman sekelas saya yang kuliah dengan biaya sendiri sehingga harus juggling antara kuliah dan kerja.

However, mereka (terutama yang WN Australia) juga memiliki privilege tersendiri yang sejujurnya bikin saya iri. Kebebasan berpendapat, appresiasi dan respect atas pilihan hidup yang dipilih, udara yang bersih, ketertiban masyarakat umum, etc. Apalagi kalau mereka bagian dari dinasti keluarga akademis/politik, when you get all access of knowledge and not to mention lively discussion/argument with parents over social/politic issue. Sedikit banyak saya pun merasakan privilege tersebut karena mengenal orang yang memiliki privilege tersebut (and I do love the discussion over many many things between us).

Dan memiliki privilege lantas tidak membuat saya menjadi lebih baik dibandingkan orang lain. Justru dengan memiliki privilege lebih ini membuat saya menjadi lebih bertanggung jawab untuk membantu mereka yang tidak memiliki privilege tersebut. Different privileges exist because everyone has different opportunity. Having more opportunity than other people should not be taken for granted. PR untuk Indonesia masih banyak untuk bisa mencapai level ‘maturity’ seperti Australia atau negara maju lainnya. But, that should be our (people with privilege) job to achieve the ‘maturity’ level that we hope.

Ujian Pertemanan

I can’t help myself to not be ‘baper’ in the time like this. After pak Ahok got sentenced, the world seems darker than before. For some people, it’s like the dead of hope. For other people, they’re cheering because what they want is finally back to their hand. That’s how bad and ugly politic is.

But what made me more sad is in the situation like this, I have to agree that the strategy of ‘Divide et impera’ of the Dutch is really working. Even after 70s years Indonesian got independence.

Melihat orang terpecah antara kubu A, B, C, D etc dan saling memperebutkan ‘kebenaran’ membuat gue muak. Until, myself cross path with him. A very dear friend of mine who I just realised we stand on different groups. Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah. Namun yang menyebalkan adalah ketika saling mempertentangkan kebenaran itu dan memaksakan kebenaran yang ia percaya. In the end, what hurts me most is… after he said to me to understand the both sides, then he just said “I don’t care with your opinion and political’s view”.

Salah seorang sahabat berkata, situasi ini adalah ujian pertemanan. Sampai di titik mana kamu menghargai level pertemanan kamu dengan mereka yang berbeda pendapat? Konyol kalau gara-gara ini pertemanan harus runyam. Konyol karena menurut saya ada hal yang jauh lebih penting untuk dijaga dibanding mendebatkan siapa yang benar atau salah. Misal: kestabilan politik Indonesia? pembangunan Indonesia yang sudah mencapai progres sejauh ini?
Honestly, situasi yang memanas belakangan ini baru seujung kuku. Semua ini hanya lah pemanasan sebelum pertarungan politik yang sesungguhnya di 2019.

When I said to you to spread the love because it hurts me to see that you spread the hate. But you argue to me it’s for “spread the truth”. What is the truth anyway? The truth that you believe is different from mine 😦
And the truth is I was not brave enough to said to you. But because I care to you and our ‘friendship’, I gave my argument to your opinion. It’s not about who’s right or wrong. It’s not about winning or losing in this debate. It’s about how I value our friendship, so I have to tell you in which group I’m in. And to be honest, I was curious with you reaction. I was wondering, how you will value our friendship? But perhaps, I just hope too much on you. You, who always said that you care to me. But, I think ‘care’ is not enough. And how the differences between us just made us separate more than before.

But, A, do you recognise that the world is getting darker right now? In this situation, what we have to do is winning our friendship instead of argue our differences. Just like what Dumbledore said:

“in the light of Lord Voldemort’s return, we are only as strong as we are united, as weak as we are divided. Lord Voldemort’s gift for spreading discord and enmity is very great. We can fight it only by showing an equally strong bond of friendship and trust. Differences of habit and language are nothing at all if our aims are identical and our hearts are open.

I hope you do understand.

With love,

T