How to Write a Purpose Statement for Scholarship

I may not be the smartest person nor the most high-qualified people. I made a thousand mistakes before I reached the point I am now. The only thing I have is persistent. I still remember a month ago, a friend of mine asked me if I don’t get the scholarship when will I stop? The answer is very clear: until I get it, whenever it is. I refuse to give up on my dream.

However, one thing I learned from this journey is being persistent is not enough. I have to fully prepare with (if possible) the best strategy. And luckily, I met Ferry, a friend from one of the ‘scholarship preparation group’. He taught me how to  set a ‘puzzle’. Imagine your life as a piece of puzzle, and you have to combine-compile-arrange it as one story to sell yourself. I just want to write one part from his story, for the complete part you wanna take a look to his blog here.

Processed with VSCO with kk2 preset

 

Many people asked: how to get a scholarship? There are MANY answers to that kind of question. But the most important thing is before you apply to any scholarship, you should have a clear future plan. By defining it will help you to define your propose study. Usually, people think the propose study will define your future, however, your future plan will help you to choose the right education (or any requirement e.g work experience or skills) for you.

As you can see that the order to define it starts from: 1) S1 (undergraduate study); 2) Work Experience; 3) Future Plan (you can divide it into two or three section, e.g next 5 years, 15 years and 20 years); 4) S2 (master degree).

You can describe and explain what you already done or you may do (in the future) in the ‘WHAT’ column. Furthermore, you can write several list of skills you already gained or (hope) will gain in the ‘SKILLS’ column.

For example:

Let say, there is someone named Dita.

At S1, she took Law as her my major, active in several organisations (student executive body as vice-head of social service department and law student association for legal practice), and her minor focus on child and internet protection law. She also got a scholarship from the university. Several skills she gained are have a basic-intermediate knowledge about criminal law theories, basic skills to academic writing, organization skills, team-work, communication skills, etc.

While her work experience as a researcher about law aspect in new start-up digital business in Indonesia helps her to obtained skills on research to support policy advice and advisory skills on legal aspect for new start-up digital in Indonesia.

In the future, she would love to greater her role not only as a researcher in her current organization but willing to expertise in law and digital technology. She really aware that internet become the biggest part of our life and in Indonesia the legal aspect relating digital technology/internet is still developing. Since the area is really dynamic.

For her master degree, she found a major that really suitable to her interest that will support her goal: Master of Laws in Advanced Studies in Law and Digital Technologies at Leiden University.  In this major she will learn several courses such as: 1) Regulating the internet; 2) Online privacy and data protection; 3) Digital government; 4) Digital child rights. By taking the major, she will deepen her knowledge and skills regarding the area of internet protection law. Moreover, she could propose a suitable regulation for Indonesia after learn from other countries’ experience and sharing ideas with her colleague.

Voila! I already finished a propose mapping plan for my sister. 😀

The map above really helpful (at least for me). It’s not only to write your answer for (any kind of) question while you’re applying for scholarship but also to make a structure answer for interview session when you’re shortlisted.

Have a nice weekend, everyone.

Belajar dari Kegagalan (Part 3) – Seleksi LPDP Batch 1 Tahun 2016

As I promise to myself, I will write my LPDP selection process eventhough it didn’t end well.

Menyambung postingan sebelumnya dimana saya banyak bercerita mengenai proses seleksi tahap kedua: Interview, LGD dan On The Spot Writing. Postingan ketiga saya dedikasikan untuk skor LPDP yang saya dapatkan dari e-ppid kemenkeu tanggal 6 April 2016. Well, finally…

hasil ppid tami
Untuk keamanan diri sendiri maka identitas personal saya blur 🙂

 

Total skor yang berhasil saya dapatkan adalah 822,99 dan karena saya memilih Bidang Keilmuan Sosial maka saya harus melampaui nilai passing grade 850 untuk lulus. Seperti yang bisa kalian baca, untuk memperketat seleksi Panitia LPDP menaikan standard passing grade masing-masing bidang.

Perasaan pertama saat membaca skor saya campur-campur, mulai dari sedih, senang (karena saya berhasil mendapatkan skor yang lumayan di wawancara dan lgd), kecewa (poin 66 untuk Essay?? wkwkwkw, what have you done tamiiiii) dan kesal. Emosi yang terakhir muncul karena ada satu penyebab yang sangaaaaat krusial. Inkonsistensi passing grade yang ditetapkan LPDP untuk Batch 1 tahun 2016 ini. I knew some people who already received their score and I knew that the passing grade score are vary. Seperti ini contohnya:

ppid_3ppid_2

hasil ppid_1
Skor yang saya upload adalah sekian dari yang saya dapatkan. Tentu saja saya post setelah ijin sama yang punya. Ketiga-nya bersama saya mengikuti seleksi LPDP BPI tujuan luar negeri di Batch 1 tahun 2016

Jujur saja, saya tidak lulus LPDP pun tidak masalah (walau nangis sih haha karena kemarin kesempatan terakhir saya untuk mencoba LPDP) tapi kalau ada inkonsistensi terhadap standard passing grade tentu saja saya kesal. Sebenarnya nilai passing grade-nya yang mana yang digunakan untuk menentukan standard kelulusan LPDP?? Masa setiap orang punya standard passing grade yang berbeda?? Terus yang lulus itu kemarin skor mereka berapaaaa?? Haaa? HA! Hahahaha oke, enggak lucu kalau udah mulai marah-marah sendirian.

Tadi-nya saya mau langsung tulis blog mengenai hasil LPDP dan inkonsistensi standard passing grade mereka. Namun setelah diskusi dengan kawan-kawan, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba mencari jawaban dengan bertanya langsung ke pihak LPDP. Pertama, saya mencari bukti-bukti passing grade yang berbeda dari sesama kawan peserta BPI di Batch 1 tahun 2016 dan memohon ijin untuk menggunakan data mereka sebagai bukti yang bisa ditanyakan ke pihak LPDP. Kedua, saya menelpon call center LPDP di 1600652. Setelah bercakap dengan operator mereka, saya disarankan untuk mengirimkan email beserta bukti-bukti. Ketiga, saya pun menulis email.

 

This slideshow requires JavaScript.

Bapak/Ibu Panitia Seleksi Beasiswa LPDP Ysh,

Menindaklanjuti hasil percakapan di telepon dengan operator LPDP pada tangal 6 April 2016 pukul 13.30 WIB mengenai pertanyaan saya terkait passing grade kelulusan LPDP pada Batch 1 tahun 2016, bersama email ini saya sampaikan hal-hal sebagai berikut:
  • Saya yang mengajukan permohonan:
    Nama                : XXXXXXX Utami
    No. KTP            : XXXXXXXXXX
    Kode Registrasi : 0000780/SS/M/2/lpdp2016
    Bidang               : Sosial
  • Setelah melihat hasil saya dan nilai passing grade yang telah ditetapkan pada bidang 3 saya mencoba memahami mengapa saya tidak lolos karena memang nilai saya tidak mencukup persyaratan (skor total 822,99 dan passing grade 850).
  • Namun, saya melihat hasil ppid teman-teman saya yang lain dimana kami sama-sama mengikuti batch 1 di tahun 2016 dengan proporsi passing grade yang berbeda. Yang paling mencolok adalah passing grade di bidang 3, di hasil teman-teman saya nilai yang tertera berbeda mulai dari 800, 825 hingga 830.
  • Menanggapi perbedaan tersebut, saya mengajukan email permohonan atas konsistensi dari hasil passing grade yang ditetapkan oleh Panitia LPDP serta penjelasan mengenai perbedaan passing grade di keseluruhan bidang dari hasil ppid yang diterima oleh peserta seleksi BPI LPDP.
  • Terlampir disampaikan dokumen pendukung dan bukti mengenai hasil yang berbeda tersebut. Untuk data diri di dokumen selain milik saya di blur untuk melindungi informasi data diri mereka, mengingat kawan-kawan saya memiliki kesempatan kedua untuk mendaftarkan LPDP dan kemarin adalah kesempatan terakhir saya. Mohon pengertian dari Bapak/Ibu Panitia.
Saya pribadi berusaha memahami ketelodoran yang dibuat oleh panitia LPDP mengenai konsistensi passing grade. Dengan beban tugas yang banyak serta tanggung jawab yang diemban untuk memilih anak Indonesia yang paling tepat untuk diberikan investasi berupa dana pendidikan, saya percaya hal tersebut bukan tugas yang mudah.
Namun, sebagai seseorang yang sama-sama bekerja di pemerintah, saya diajarkan untuk tidak mentolerir ketelodoran. Deputi saya mengajarkan untuk zero tolerance dimulai dari hal-hal administratif semacam salah ketik bahkan salah tanggal. Apalagi mengenai hasil dari seleksi yang telah dijalani oleh ribuan peserta untuk membuktikan diri pada seleksi LPDP.
Akhirnya insiden ini memunculkan pertanyaan di benak saya… Berapakah nilai yang telah didapat dari para awardee yang telah lolos kemarin?
Selama ini hasil dari seleksi LPDP tidak pernah dipublikasikan secara transparan dan hanya diinfokan lulus atau tidak lulus. Apakah memungkinkan apabila kami mengetahu keseluruhan nilai dari peserta LPDP?
Email ini saya kirim tidak hanya untuk pemenuhan rasa penasaran pribadi tetapi juga mewakili keresahan yang dirasakan oleh kawan-kawan saya sesama peserta LPDP.

Demikian email ini saya sampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu Panitia LPDP yang baik saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,
Itu adalah email pertama saya. Yes, ada typo, emang sengaja. Supaya tahu gimana rasanya kalau ada hal yang salah itu enggak enak dilihat mata.
Kemudian saya mendapatkan balasan seperti ini:

 

Kepada Sdr. Tammi Prasetyo
Selamat Siang,

Terima kasih sudah menghubungi LPDP.
Terimakasih atas pertanyaanya, perlu diketahui bahwasanya mulai 1 Januari 2016 terdapat kebijakan baru dalam Beasiswa LPDP, yaitu skor passing grade tujuan ke kampus Luar Negeri dinaikkan 5% atau 50 point untuk setiap layernya (kecuali program afirmasi).

Kemudian jawaban PPID diawal tahun 2016 memang belum semua disesuaikan sehingga terdapat beberapa perbedaan pecantuman skor diantara para penerima informasi PPID tersebut dan mulai 1 April 2016 ini semua informasi yang dkeluarkan akan seragam.

Kelulusan peserta seleksi beasiswa LPDP tidak semata-mata hanya dilihat dari pencapaian passing grade namun juga dari catatan interviewer independen serta psikolog, dan tidak semua informasi hasil seleksi substantif tersebut bisa kami lampirkan karena terkait undang-undang keterbukaan informasi yang didalamnya terdapat pula aturan informasi mana saja yang dikecualikan untuk dipublish. Mungkin cukup sekian tanggapan dari kami, mohon dipahami.

Apabila masih ada yang ingin dipertanyakan silahkan hubungi Kami kembali melalui email atau telepon yang tertera pada email ini.
Atas perhatian dan kerja sama yang baik Kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Customer Service Officer (DB)
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan RI

Sebenarnya, saya sudah menebak saya akan mendapatkan jawaban seperti ini. Sebagai sesama orang yang bekerja di pemerintahan, inkonsistensi nilai serta ada-nya miskoordinasi antara pihak LPDP dan PPID (sebagai penyambung informasi kepada pemohon) menunjukan ada suatu hal yang aneh. Ini cuman asumsi saya, tapi tidak mungkin PPID mengeluarkan nilai tanpa instruksi dari LPDP. Kemudian, yang aneh lagi adalah bahwa kelulusan tidak hanya berdasarkan skor penilaian tetapi ada penilaian lain seperti catatan psikolog dan interviewer independen. Dan LPDP menyatakan tidak semua informasi dapat dipublish karena terkait undang-undang keterbukaan informasi yang didalamnya terdapat pula aturan informasi mana saja yang dikecualikan untuk dipublish.

Honestly, it sounds very suspicious. Akhirnya saya pun memberikan jawaban seperti ini (yang dibalas dengan ucapan terimakasih):

Bapak/Ibu Panitia LPDP Ysh,

Terimakasih atas waktu dan perhatiannya untuk menyusun jawaban yang telah Bapak/Ibu sampaikan.

Saya menghargai keputusan yang telah LPDP tetapkan karena memang merupakan hak preogratif dari penyelenggara untuk menentukan batasan kelulusan. Bahwa memang benar untuk menyaring awardee yang berkualitas perlu lah sebuah standard yang tinggi.

Namun, ada beberapa hal yang saya sayangkan dan semoga bisa menjadi catatan Bapak/Ibu ke depannya.

Pertama, saya terima email mengenai hasil ppid pada tanggal 6 April sementara salah seorang teman saya yang berbeda passing grade nya di tanggal 5 April. Saya harap hasil yang konsisten memang benar-benar disampaikan setelah 1 April (yang nyatanya ternyata tidak).

Kedua, saya sendiri belum membaca tentang Undang-Undang mengenai Keterbukaan Informasi, namun saya percaya salah satu bukti integritas sebuah organisasi dapat dilihat dari pertanggungjawaban kinerja yang dilakukan. Dalam hal ini, proses dan hasil yang transparan tentu nya akan menjadi sebuah tanggung jawab publik yang baik terutama untuk mengetahui siapa-siapa yang menerima beasiswa. Hasil yang tidak transparan (tanpa mengetahui skor ataupun pertimbangan penerimaan) seringkali menjadi celah untuk hal yang tidak diinginkan. Dan tentu kami, sebagai publik, ingin mengetahui bahwa penerima dana beasiswa tersebut adalah orang yang layak.

Ketiga, sejujurnya saya menyayangkan kebijakan mengenai pembatasan pendaftaran yang hanya maksimal 2x seumur hidup. Saya pernah bertanya kepada seorang kawan yang bekerja di LPDP mengapa ada aturan tersebut karena kata beliau, mereka yang sudah 2x mencoba dan masih gagal tentu-nya dianggap tidak berkualitas karena menyia-nyiakan kesempatan kedua. Padahal banyak kasus di percobaan ketiga atau keempat seseorang baru bisa mendapatkan beasiswa. Mungkin hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan LPDP ke depannya mengenai aturan pembatasan maksimal 2x pendaftaran seumur hidup (apakah hal ini berimplikasi bagi mereka yang gagal di BPI Master dan tidak bisa melanjutkan untuk kuliah S3?).

Akhir kata, saya sendiri memahami LPDP sebagai sebuah lembaga baru yang terus berusaha memperbaiki diri dan berkembang. Dan masukan yang telah diberikan (dan saya yakin email ini pasti banyak mendapatkan saran dan kritik juga) dapat dipertimbangkan untuk perbaikan LPDP ke depannya.

Terimakasih kami ucapkan.

Jawaban untuk LPDP saya ketik ketika saya dalam perjalanan menuju tempat rapat di kota sebelah. Ada banyak pertimbangan saya akhirnya memutuskan untuk ‘lebih kalem’ dalam menanggapi email LPDP yang suspicious itu (walaupun saya tetap menyatakan keheranan saya di dalam email).

Menyimpan energi negatif itu sangat sangat tidak enak. Padahal ada banyak hal yang harus saya kerjakan dan menjadi fokus dari energi saya. Seperti pekerjaan di kantor dan fokus untuk mengetuk pintu lainnya. Saya ingat di hari-hari menunggu pengumuman LPDP saya berdoa kepada Tuhan, kurang-lebih seperti ini: Apabila memang LPDP bukan rejeki saya, saya telah berjuang dengan usaha terbaik saya, dan saya percaya Tuhan memiliki rencana yang lebih baik dari yang saya kira. 

Saya juga berdiskusi dengan seorang kawan dan akhirnya menyimpulkan, mendapatkan beasiswa dan melanjutkan sekolah hanya-lah tools dari tujuan yang sebenarnya. Jadi penting untuk fokus terhadap tujuan dibandingkan meratapi kegagalan. Ada banyak cara menuju Roma atau Belanda atau Australia hihihi. Yah walaupun jalannya masih berputar-putar tapi apa yang saya alami menunjukan Tuhan percaya saya cukup kuat untuk melalui ujian-ujian ke depan.

Dan kenapa saya masih menulis tentang ini di blog? Tentu saja untuk berbagi kepada kalian semua 🙂 It’s still part of my healing process. Saya menulis bukan sebagai #timsakithati dan bukan juga untuk menakut-nakuti mereka yang sedang dalam proses mendaftar beasiswa LPDP. Enggak ada salahnya mencoba dan berusaha. Namanya juga rejeki, enggak ada yang tahu rejeki kita di pintu yang mana. It’s all about cocok-cocokan. Yah macam mencari jodohlah. Tapi pesan saya cuman satu, pintu rejeki itu enggak cuman satu.

Have a nice day everyone 🙂

Ps: Buat kamu yang mau mencoba LPDP proporsi penilaian adalah sebagai berikut (ini asumsi dan masih bisa berubah ke depannya) 70% esay, 15% OTS dan 15% LGD. Dengan total poin 1000. So, you know what you have to do, right? 🙂 goodluck!

Belajar dari Kegagalan (Part 2) – Seleksi LPDP Batch 1 Tahun 2016

As I promise to myself, I will write my LPDP selection process eventhough it didn’t end well.

Melanjutkan post sebelumnya mengenai seleksi administrasi, mari saya jabarkan mengenai proses seleksi kedua yang sangat menentukan: Wawancara, Leaderless Group Discussion dan On The Spot Writing.

Sebelum memulai ada baiknya saya memberitahukan dua hal. Pertama, di awal tahun 2016 terdapat sebuah kebijakan baru dimana quota penerimaan yang ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri dibatasi (bisa dilihat di artikel ini). Di artikel tersebut di tulisnya quota yang ingin melanjutkan studi ke Luar Negeri sebanyak 45%, namun informasi yang saya dapat adalah 40% malahan teman awardee mengatakan quota adalah 30%.

Informasi kedua adalah mengenai sistem passing grade. Info ini saya dapatkan dari kawan-kawan yang pernah meminta hasil seleksi LPDP mereka melalui ppid, sebuah website untuk permohonan informasi publik. Jadi berdasarkan prioritas pembangunan nasional, beasiswa LPDP mengkategorikan bidang ilmu kepada prioritas dengan passing grade berbeda (karena saya sedang dalam proses memohon hasil penilaian, mungkin saya tulis dibawah bisa berubah, apabila berubah akan saya ganti nantinya), yaitu:

  1. Prioritas pertama terdiri dari bidang keilmuan teknik, sains, pertanian, kelautan dan perikanan, dan kedokteran/kesehatan dengan passing grade 700;
  2. Prioritas kedua terdiri dari bidang ilmu keilmuan, pendidikan, akuntansi/keuangan dan agama dengan passing grade 750;
  3. Prioritas ketiga terdiri dari bidang ilmu keilmuan ekonomi, sosial, budaya/bahasa dan bidang lainnya dengan passing grade 800.

Penentuan kelulusan didasarkan oleh passing grade dan catatan rekomendasi dari interviewer independen dan psikolog.

Dan tahun ini seluruh proses seleksi tahap kedua menggunakan bahasa inggris bagi yang tujuan luar negeri.

Bidang keilmuan saya masuk ke prioritas ketiga (Ilmu Sosial) dimana untuk lulus saya harus mencapai lebih dari 800 point dan masih harus memperbutkan tempat dimana quota keseluruhan sekitar 40%? Challenging, huh? Hihi. Bagaimana sistem pembagian penilaian? Untuk itu sejujurnya masih simpang siur. Tapi form aplikasi pasti sudah menjadi bench mark awal nilai terutama untuk IPK, akreditasi Universitas asal, nilai IELTS, sudah/belum mendapatkan LOA, prestasi, etc. Saat wawancara adalah momen konfirmasi ulang dan pendalaman. Yang bisa kami perkirakan untuk bobot adalah: 70% wawancara, 20% LGD dan 10% OTS Writing.

Hitung-hitungan di atas sejujurnya sudah bikin cukup gentar untuk maju. Karena saya harus mendapat highest score di keseluruhan proses seleksi. Tapi emang dasarnya suka dengan tantangan, hayoklah maju terus pantang mundur!

Bagaimana saya mempersiapkan diri? Pertama, bikin support group (lagi). Kedua, practice makes perfect.

Karena satu dan lain hal saya menemukan group line sesama pejuang yang akan seleksi tahap kedua. Ada sekitar hampir 200 orang tergabung. Dari 200 orang tersebut, 16 orang mengadakan kopdar dan saya akhirnya mengenal secara personal beberapa di dalamnya (Hai Susan, Aci, Iman, Aghni, dkk). Wajar sekali dalam group besar terdapat group kecil, sehingga sudah hukum alam akhirnya saya memiliki group kecil untuk latihan dan diskusi yang lebih intensif (Hai Ratna, Amores, Dona, Anton, dan Yoga).  Latihan apakah yang dilakukan? Pertama drilling wawancara dan kedua LGD session. Menurut saya penting terutama membiasakan menggunakan bahasa inggris dalam komunikasi dan membantu dalam mengatasi nervous haha.

WAWANCARA

Karena bobotnya paling besar, makanya menjadi momok yang sangat horror. Dari hasil research, tanya sana-sini, akhirnya saya membuat list possible question. List tersebut saya bagikan ke teman-teman group besar dan pastinya sudah melanglang buana hihi. Sesuai judulnya ‘possible’ pertanyaan tersebut bersifat kemungkinan dan tidak pasti. Kenapa? The question will be very very personal to you. Especially from your essay. Dan tentu aja akan ada muncul pertanyaan dari jawaban yang telah kamu sampaikan. Di sesi latihan bersama kawan-kawan saya banyak di bantai terutama di bagian ‘Kenapa harus kuliah ke Luar Negeri? Memang gak ada jurusan di Universitas dalam negeri?’ Hahaha. I still remember that I almost cry to answer that because I must say that my friends were really horror at that time hihi.

Di sesi sebenarnya, pertanyaan tersebut tidak muncul. Sesi sebenarnya pertanyaannya sungguh template question (in my opinion). Pewawancara terdiri dari 3 orang, 1 dosen ahli, 1 dari LPDP dan 1 psikolog. 70% sesi wawancara menggunakan bahasa inggris dan 30% bahasa indonesia (sesi dengan psikolog). Wawancara berlangsung selama 40 menit. Pertanyaan yang diajukan antara lain: bagaimana saya mendapatkan LOA, ceritakan pekerjaan saat ini, mata kuliah apa yang menarik di studi tujuan, ceritakan mengenai skripsi sebelumnya, cerita kelebihan diri, cerita tentang orang tua, etc.

Selesai sesi wawancara sejujurnya saya merasa sangat lega karena bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Semua berjalan lancar sesuai doa-doa yang saya panjatkan (apabila dibandingkan dengan wawancara sebelumnya, beuh jauh sekaliiii). Namun kelegaan saya berubah dalam sekian detik karena when everything went too smooth, it doesnt always mean good. Kalau seleksi ini gagal, jujur saya akan sulit untuk mencari tahu kenapa. Kenapaaa?? Hahahaha *nangis di pojokan* 😀

Mari kita tunggu jawaban penilaian dari LPDP-nya saja.

LEADERLESS GROUP DISCUSSION

Walaupun bobot penilaian tidak sebesar wawancara tetapi LGD menjadi sangat krusial. Terutama untuk menilai apakah kita mampu berdiskusi, berkompromi, menekan ego dan bekerja sama sebagai satu kelompok dalam mencapai kesimpulan serta solusi.

Satu kelompok LGD terdiri dari sekitar 10 orang. Memiliki waktu kurang lebih 45 menit (ada kelompok yang dapat 45 menit, 40 menit bahkan 30 menit, dunno why bisa beda-beda begitu) untuk membaca satu topik yang dihadirkan dalam bentuk artikel, berdiskusi dalam menyampaikan pendapat dan solusi, dan mencari solusi bersama/menjawab pertanyaan yang diberikan.

LGD is about cooperation dan mengatur waktu dengan baik. Penilaian terbagi dua, penilaian sebagai kelompok dan penilaian sebagai individu (berdasarkan pengamatan). Selain itu seberapa paham kita terhadap isu yang menjadi topik. Isu-nya bermacam-macam dan bisa sangat luas. Saran saya untuk menghadapi isu adalah buka wawasan dengan banyak membaca koran.

Topik yang saya dapatkan adalah mengenai Bela Negara. Alhamdulilah, (menurut kami) LGD berjalan lancar. Diskusi kami terdiri dari 2 round diskusi. Pertama secara clockwise, kedua secara acak. Masing-masing mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbicara menyampaikan opini dan solusinya. Di akhir kami masih memiliki waktu 5 menit untuk menyampaikan simpulan dari hasil diskusi kami (penting ada yang menjadi time keeeper agar diskusi berjalan tepat waktu). Penting untuk saling mengenal dengan anggota kelompokmu sebelum sesi ini dimulai. Sehingga kamu bisa menebak arah diskusi ke depannya akan seperti apa. Tidak ada salah atau benar, yang penting bisa saling menghargai dan melengkapi. Dan tentu saja inisiatif yang tidak dominan (that’s why we call it leaderless) juga sangat penting. Setidaknya itu yang saya sampaikan ke teman-teman sekelompok LGD 🙂

20160219_094747
Happy face because we made it! 💙

ON THE SPOT WRITING ESSAY

Kalau tau sesi writing IELTS task 2, kurang lebih proses-nya sama. Kita akan diberi satu topik dan bisa menulis essay apakah (agree/disagree, cover both sides, opinion, etc). Waktu menulis 30 menit dan diberikan satu kertas yang bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Topik yang diberikan ada 2, kita bisa memilih salah satu yang paling sesuai. Saat itu saya memilih mengenai ‘maximum penalties for terrorist and corruption suspect’ dengan posisi saya menyetujui kebijakan ‘maximum penalties’ tersebut.

Tidak ada saran yang lebih baik selain sering mengikuti isu terkini di koran dan latihan menulis. Topiknya lumayan beragam, ada kawan yang mendapat mengenai solar eclipse, paid plastic bag, hingga tax amnesty.

Ketika saya dinyatakan tidak lulus, sedih itu sudah pasti. Namun tangis yang muncul seringkali karena rasa haru yang tidak bisa terbendung karena perhatian kawan-kawan perjuangan yang menyemangati saya. Belum lagi orang tua dan keluarga. Serta orang-orang lain yang percaya dengan kemampuan saya. Mereka yang setiap hari menanyakan hasil kepada saya dan ikut mendoakan saya. I couldn’t hold my cry when received their messages. Terutama bagi kawan-kawan perjuangan yang lulus, terlebih bagi yang sama-sama tidak lulus. Terimakasih atas rasa percaya dan tulus persahabatan yang kalian berikan. :’)

Saya tidak akan menyalahkan siapapun terhadap kegagalan yang saya alami. Bahkan diri saya sendiri. Saya tahu saya sudah berusaha dengan upaya terbaik saya (only God knows what I’ve been through). Dan saya tahu LPDP layaknya institusi lainnya memiliki sistem yang rigid dan aturan yang harus dipenuhi. It’s simply because I just not fit in their system. That the bitter truth I have to swallowed. That’s the bitter truth that keep me move on. Saya belajar untuk terus berprasangka baik terhadap Allah SWT. Saya belajar untuk memperbaiki diri, untuk tidak boleh sombong, untuk terus belajar, tidak boleh lengah dan menjadi kuat. What doesn’t kill you will make you stronger. Satu pintu rejeki tertutup, ada pintu rejeki yang lain. I do believe in that.

Pilihannya ada dua: merutuki nasib atau bergerak maju.

Saya pilih bergerak maju.

Bring it on!