Movie Review: A Copy of My Mind

image

Salah satu khas Joko Anwar dalam membuat film adalah dia bisa merangkai adegan secara natural, menghanyutkan dan menampilkan ironi hidup tanpa berlebihan. Mungkin di awal film cukup bosan dengan alurnya yang lambat. Tapi tanpa kita sadari kita terhanyut dengan kisah Alek dan Sari, dua tokoh yang tanpa pretensi apa-apa menjadi tokoh utama dalam kisah yang Joko Anwar coba tampilkan.

Salut untuk acting Tara Basro sebagai Sari. Bagi gue, Tara Basro selalu mengesankan sebagai perempuan mandiri dan sex appeal yang tidak bisa laki-laki hindari. Di film ini Tara Basro berhasil menjadi Sari, si mbak-mbak facial salon, yang naif, polos dan ‘nyaru’  dengan mbak-mbak lainnya. Tapi di sisi lain Tara Basro bisa menghadirkan Sari yang terlihat sexy dengan kepolosannya mbak-mbak nya itu.
Di sisi lain, Chico Jericho masih mengingatkan gue dengan Ben di Filosofi Kopi. Dan tetep ya he’s one of sexiest man alive! Chemistry kedua nya oke banget. Alur romansa mereka hadir sederhana dan memikat.

image

Satu hal yang menjadi daya tarik lain dari film ini adalah menghadirkan ironi hidup di Jakarta. Joko Anwar mengemas bagaimana kehidupan di Jakarta yang semrawut akan kepentingan yang beragam. Dengan mengambil latar kampanye Pemilu Presiden, dilihatkan betapa seringkali orang bisa berbuat apa saja untuk mencapai kepentingan nya. Dan Alek dan Sari hanyalah gambaran (cukup ekstrim) korban dari kepentingan tersebut. Yang paling membekas adalah adegan salah satu preman yang menculik Alek setelah mengeksekusi menceritakan ke partner nya rencana dia untuk beli rumah agar anaknya dapat bermain di halaman yang luas. Bahwa pada akhirnya setiap orang tetap lah manusia yang memiliki mimpi dan mewujudkan mimpi tersebut, entah bagaimana caranya. Ah, ironi.

Well, terimakasih Joko Anwar atas suguhan bittersweet nya. Sesaat hati ku pilu bersama mbak Sari.

It’s Okay To Be Not Okay

INSIDE-OUT-18

Have you watched the newest Pixar/Disney movie Inside Out? I must say that one was a very enchanting movie. Brilliant. It’s time Disney create a movie based on “what if feeling have feeling”.

As human, I must say that how brain works its quite complex. Especially related to feeling, emotion! Menurut gue brilian karena film ini bisa membuat orang lain paham mengenai cara kinerja emosi yang cukup kompleks. Tokoh utama dari film ini adalah 5 jenis emosi yang terdapat di diri Riley, seorang anak umur 11 tahun. Secara sederhana film ini menjelaskan bahwa ada 5 emosi dasar di setiap diri manusia yaitu: Joy, Sad, Anger, Fear dan Disgust.

Umur 11 tahun merupakan umur yang cukup kompleks karena merupakan umur transisi dari emosi anak kecil menuju remaja. Apalagi ketika dihadapkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Dan film Inside Out bisa menggambarkan dengan baik mengapa bisa terjadi respons emosi seperti yang dialami Riley.

Dalam film ini diceritakan bahwa dari kelima emosi tersebut, Joy menjadi team leader untuk mengendalikan emosi Riley. So, Riley is a cheerful girl, friendly, goofy, and lovable. Until, one day, their parents decided to move to other city. San Fransisco. Perubahan pertama yang sangat signifikan bagi Riley yang berumur 11 tahun. Karena berarti dia harus pergi meninggalkan kota yang dia cintai, teman-temannya serta klub hockey. Belum lagi San Fransisco tidak seperti yang diharapkan (dalam bayangan anak umur 11 tahun yes). Rumahnya lebih kecil, mobil pindahan yang membawa barang-barangnya nyasar ke kota lain, makanannya tidak enak (a brocoli in pizza, I feel so sorry). And so on.

Joy berjuang untuk tetap membuat Riley berpikiran positif dan bahagia. Namun, Sad (yang menurut pengakuannya) merasa di luar kendali untuk melakukan kontrol atas pikiran Riley sampai Riley menangis di depan kelas saat perkenalan diri. Riley berubah. She’s not a cheerful girl anymore. Perubahan itu yang membuat Joy dan Sad berkonflik sehingga mereka terlempar dari Headquarters. Dan emosi Riley dikendalikan oleh Anger, Fear dan Disgust.

Oke, spoilernya cukup sampai disini haha. My point is, film ini menggambarkan kalau boleh kok sesekali untuk merasa unhappy, mellow or sad. Karena ketika kita memaksakan diri untuk tetap happy dan tidak memberikan ruang untuk emosi yang lain, akan terjadi ketidaksinkronan kita dalam merespons perubahan ataupun kejadian di sekitar kita.

Pasca nonton Inside Out di sekeliling gue pun jadi demam dengan teori-teori psikologi dan human behavioral. Salah satu artikel yang menarik gue baca adalah ini. Kalau temen gue sendiri komentar kalau film ini bisa menjelaskan kenapa akhirnya banyak komedian yang bunuh diri. Because sometimes orang-orang yang punya image sebagai ‘happy people’ dipaksa untuk terus menerus merasa ‘happy’. Dan mereka dianggap ‘aneh’ kalau tidak keliatan ‘happy’ seperti biasa. Seperti yang dialami oleh Riley. Karena image-nya, orang tuanya expect Riley untuk terus menerus menjadi good girl dan happy padahal yang dialami-nya berhak untuk membuatnya merasa tidak senang (remember, she’s only 11 years old).

So, the message I got from this movie is it’s okay to be not okay. It’s okay to give a space for yourself, to admit that everything sometimes don’t go as your plan, sometime’s world is rude, and life seems unfair. Admitting is first stage before you understand. Dan di film ini, Sad dibutuhkan untuk kita lebih memahami. Untuk bersimpati.

Sadness-understand

Ada yang belum nonton film ini? Go watch it and you won’t regret it.

Once again, Disney and Pixar always gave best collaboration. Well done. 🙂

Review Film: PK (Peekay)

Peekay dalam bahasa India sendiri (kalau dari subtitle yang gue baca) arti-nya adalah mabuk. PK pun kerap kali dipanggil (atau dikatain sih sebenernya) Peekay karena kalau ngomong atau bertanya suka ngelantur kayak orang mabok.

That’s a new story from Rajkumar Hirani. Kalau beberapa tahun yang lalu gue tergila-gila dengan film 3 Idiots, now PK actually stole my heart.

P.K-Peekay-Movie-Poster-Pic

Kalau 3 Idiots merupakan film yang nyinyir abis-abisan tentang sistem pendidikan dan pola pikir masyarakat India pada umumnya (and yes somehow related to our society), film PK kali ini mengungkit satu issue yang super sensitif: Tuhan dan Agama. Mungkin buat yang belom nonton lebih baik jangan dilanjutin baca tulisan ini karena mengandung spoiler.

PK menceritakan seorang alien yang turun ke Bumi untuk melaksanakan misi-nya. Namun, kalung bandul yang merupakan ‘remote’ untuk berkomunikasi dengan spaceship-nya dicuri sehingga PK pun terjebak di Bumi untuk mencari bandul tersebut. Setiap PK bertanya ke orang-orang jawaban mereka selalu sama “Hanya Tuhan yang dapat membantu-mu” dan semacamnya. Then, it makes him start to search God to help him. Tapi ternyata justru mencari Tuhan tidak membuat pencarian bandul tersebut menjadi lebih mudah karena PK akhirnya menyadari bahwa ada ‘banyak’ Tuhan yang diyakini oleh manusia dan dipuja dengan cara yang berbeda.

In my opinion, film ini secara halus mengkritik kepada manusia dibanding kepada Tuhan itu sendiri. Seperti yang PK pelajari dari pencariannya terhadap Tuhan bahwa…

“Ada 2 Tuhan. Tuhan yang pertama adalah Tuhan yang menciptakan kita semua. Tuhan yang kedua adalah Tuhan yang diciptakan oleh kita”

“Kamu ingin membela Tuhan? Tuhan yang menciptakan alam semesta ini sementara kita hanya bagian kecil dari alam semesta ini. Tuhan mampu melindungi diri-nya sendiri”

Well, PK mengatakan hal tersebut setelah salah seorang temannya menjadi korban aksi peledakan bom oleh teroris sebagai aksi melindungi Tuhan atas tindakan penghinaan terhadap Tuhannya.

Terkadang agama seringkali dijadikan alat untuk menguasai. Seperti yang PK bilang its all about ‘fear business’. Rasa takut manusia akan Tuhan dan agama dijadikan alat oleh pihak tertentu (dalam film ini digambarkan sebagai pemuka agama) untuk mencapai tujuan pribadi. Contohnya si pemuka agama ini yang mengaku dapat meramal dan mendapat perintah Tuhan untuk membangun kuil berhasil membuat pengikutnya menyumbang uang. Padahal uangnya buat apa juga enggak tahu hehe.

Well, IMBD sendiri kasih skor 8,7/10 untuk film ini. Walaupun nyinyir, selayaknya 3 Idiots, film ini selain mampu membuat tertawa terbahak-bahak ada juga bagian-bagian ceritanya yang membuat penonton terharu hingga menangis. I think its a good movie to watch. Dulu sih nonton 3 Idiots sampai 15 kali ya.. Entah bagaimana dengan PK ini. 😀