Setelah Gagal LPDP

IMG_1784

Sudah setahun semenjak saya mendapatkan email ini. Saya masih ingat betapa patah hati-nya saya saat mendapatkan email ini. Saat itu adalah momen dimana saya benar-benar menyadari betapa kuatnya keinginan saya untuk melanjutkan sekolah kembali. Momen dimana saya menantang diri saya sendiri untuk benar-benar mendapatkan apa yang saya ingin wujudkan.

Setahun kemarin banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Bertemu orang-orang yang bisa mendorong saya melebihi batas kemampuan saya sendiri. Mendapatkan bantuan atau turut serta membantu orang yang berada di jalur perjuangan yang sama. Tulisan saya di blog ini entah sudah menyebar kemana saja, dan bukan menjadi hal yang mengherankan ketika traffic blog menjadi ramai. Terimakasih yang sudah mampir dan turut membaca postingan closure saya mengenai kegagalan di lpdp.

Tahun lalu saya menanamkan pikiran di benak saya kalau tahun depan saya harus sudah melanjutkan sekolah ke sekolah idaman saya. Dan tepat kemarin tanggal 10 Maret 2017, saya baru saja menyelesaikan ujian di kelas (semacam quiz) untuk mata kuliah Social Policy sebelum berangkat ke Sydney untuk menonton Adele tanggal 11 Maret. You know, life will bring you exactly to what you want. Masih ingat novel 5 cm? Tanamkan pikiran dan pusatkan segala perhatian untuk mewujudkan mimpi-mu. Now I sound like motivator ala-ala hahahaha. But, hey, it works for me.

Selama setahun kemarin pun saya mendapatkan banyak email dari random and stranger mengenai lpdp dan beasiswa pada umumnya. Mulai dari bagaimana mengatasi kegagalan, bagaimana mendapatkan beasiswa yang kita mau, dan pertanyaan basic macam “berapa minimal ielts”, “apakah jurusan x menjadi prioritas?”. Mulai dari excited menjawab semua email, hingga bosan dan mengernyitkan dahi mendapatkan berbagai pertanyaan itu hehe. Honestly, I’d love to help others. Tapi bener banget sih, kalau pertanyaannya basic yang bisa dicari tau sendiri kadang agak bingung juga kenapa masih ditanyain lagi. Pantesan aja, banyak kawan yang suka ngasih ‘warning’ ke orang-orang jika ingin bertanya harus mencari tahu sendiri jawabannya. Google is really helpful. You basically could search anything from it. Cuman ya kadang mungkin sulit menemukan keyword yang tepat atau males baca aja sih hehe.

Saat ini setelah menjadi awardee Australia Awards, bukan berarti perjuangan berhenti. Justru perjuangan yang lebih berat menanti selama dua tahun ke depan. I chose a school that very competitive and have a high standard to achieve, semoga dikuatkan selama dua tahun ke depan. Tapi sekolah bukan cuman sekedar belajar, cuman berinteraksi, bertemu orang baru (dari berbagai macam negara dan latar belakang), tinggal di lingkungan baru, beradaptasi dan pengalaman lainnya. Well, I promise to write more about my life in here 🙂

IMG_0093
with Australia Awards Recipient in Crawford

 

New Challenge: Shortlisted Australia Awards Indonesia intake 2017

Kemarin malam setelah shalat Isya mendadak group beasiswa “AAS Hunter” ramai karena salah satu peserta-nya sudah mendapatkan email pengumuman. Mules? Deg-degan? Gemeteran? Itu pasti. Setelah guling-guling karena ketidakpastian.. Sebuah email masuk.

AAS email 2
:”)

 

Alhamdulilah.. Praise to God the Almighty. I just remember I was so happy, excited and also thrilled!!

Happy and excited because I know being chosen from 3000 applicants to 600 is HUGE thing. Dan apalagi, fyi, this is my third attempt nyobain beasiswa Australia Awards.

Thrilled because the real battle will begin as soon as possible. Lulus tahap pertama tentu saja boleh senang, tapi perjuangan masih panjang. Dan harus dipersiapkan dengan baik.

Post ini saya dedikasikan sebagai refleksi proses mencari beasiswa yang saya jalani ini cukup berliku-liku. Kalau dirunut dari awal mencoba (tahun 2014), I already faced many rejections and failures. Mungkin enggak semua saya share disini hanya beberapa yang menurut saya memberikan banyak pengalaman dan mungkin bisa diambil pelajarannya buat yang lain #azek 🙂

Dan di post ini, setelah mendapatkan email semalam, saya benar-benar merasakan baiknya Allah SWT. Saya ingat saat semalam sebelum pengumuman LPDP batch 1 2016, dalam sujud saya berdoa kepada Allah kira-kira seperti ini, “apabila saya tidak lulus LPDP, berarti Allah percaya saya mampu dan kuat untuk menghadapinya dan menjalankan plan B saya”. Terdengar pesimis ya? :)) Tapi saat itu situasinya memang serba tidak pasti. Dan bener aja kan gak lulus huhu hihi haha. 😀

Saya ingat saya seperti mematikan semua sensor emotional saya saat itu. Walaupun menangis itu pasti, tapi saya tidak membiarkan diri saya bersedih lama-lama. Ada yang mengatakan saya kuat bahkan denial. Tapi saya tahu, saya hanya bersikap ignorance. And it helps me to focus. Apalagi 2 minggu kemudian saya harus ujian IELTS lagi. Kemudian menyelesaikan aplikasi-aplikasi beasiswa dengan deadline yang berdekatan serta mepet. No times for sadness.

Menemukan banyak teman seperjuangan sangat membantu saya mendewasakan diri dan melihat dari sudut pandang yang berbeda dalam proses beasiswa ini. Ada banyak hal yang saya pelajari dari kegagalan saya. Terkadang kita berpikir kita yang paling mengenal diri kita. Tapi penting banget untuk meminta pandangan dari orang lain untuk bisa menilai diri kita sendiri. Memiliki teman diskusi dan support group adalah ‘hadiah’ dari kegagalan LPDP. Now I have many new friends that very kind and helpful :))) (love you all, you know who you are).

Disini gue sadar, apa yang gue capai bukan karena kekuatan gue 100% tetapi ada bantuan-bantuan dari pihak lain. Orang tua dan adik yang support dan percaya akan kemampuan gue, beberapa kawan yang bersedia di repot-kan untuk proofreading, mereka yang bersedia berbagi ilmu, doa-doa dari yang dikenal maupun tidak, dan tentu saja ijin Allah SWT. Saya percaya, apa yang terjadi saat ini terjadi atas kehendak Allah SWT. I remember one late night with a friend we talked about this topic.

Oleh karena itu tulisan ini dipersembahkan untuk mereka yang telah memberikan kekuatannya kepada saya serta kepada kalian, untuk terus maju dan jangan menyerah.

Perjuangan masih panjang. Masih ada ujian IELTS dan interview yang harus saya lewati. Sebelum menerima email di atas sehabis sholat isya saya ingat doa saya: “ya Allah, kalau memang Allah mengijinkan dan percaya saya mampu untuk menjalani seleksi selanjutnya, semoga saya mendapatkan kabar baik dari Australia Awards untuk proses selanjutnya“.

Insya Allah… If God’s will… FIGHT TAMI!!!

Ps: bagi yang bertanya-tanya, tahun ini yang shortlisted mendapatkan email jadwal IELTS terlebih dahulu baru kemudian (kasus saya keesokan harinya sebelum jam 12 siang) mendapatkan email pengumuman dari AAS nya. 🙂

AAS email 1

Bismillah.. Semangat buat kawan-kawan lain yang shortlisted juga (hey 599 others). Dan saya bahagia banget dua kawan dekat saya lolos shortlisted, sampai menitikan air mata.. Allah Maha Baik :))  ❤ 

Belajar dari Kegagalan (Part 3) – Seleksi LPDP Batch 1 Tahun 2016

As I promise to myself, I will write my LPDP selection process eventhough it didn’t end well.

Menyambung postingan sebelumnya dimana saya banyak bercerita mengenai proses seleksi tahap kedua: Interview, LGD dan On The Spot Writing. Postingan ketiga saya dedikasikan untuk skor LPDP yang saya dapatkan dari e-ppid kemenkeu tanggal 6 April 2016. Well, finally…

hasil ppid tami
Untuk keamanan diri sendiri maka identitas personal saya blur 🙂

 

Total skor yang berhasil saya dapatkan adalah 822,99 dan karena saya memilih Bidang Keilmuan Sosial maka saya harus melampaui nilai passing grade 850 untuk lulus. Seperti yang bisa kalian baca, untuk memperketat seleksi Panitia LPDP menaikan standard passing grade masing-masing bidang.

Perasaan pertama saat membaca skor saya campur-campur, mulai dari sedih, senang (karena saya berhasil mendapatkan skor yang lumayan di wawancara dan lgd), kecewa (poin 66 untuk Essay?? wkwkwkw, what have you done tamiiiii) dan kesal. Emosi yang terakhir muncul karena ada satu penyebab yang sangaaaaat krusial. Inkonsistensi passing grade yang ditetapkan LPDP untuk Batch 1 tahun 2016 ini. I knew some people who already received their score and I knew that the passing grade score are vary. Seperti ini contohnya:

ppid_3ppid_2

hasil ppid_1
Skor yang saya upload adalah sekian dari yang saya dapatkan. Tentu saja saya post setelah ijin sama yang punya. Ketiga-nya bersama saya mengikuti seleksi LPDP BPI tujuan luar negeri di Batch 1 tahun 2016

Jujur saja, saya tidak lulus LPDP pun tidak masalah (walau nangis sih haha karena kemarin kesempatan terakhir saya untuk mencoba LPDP) tapi kalau ada inkonsistensi terhadap standard passing grade tentu saja saya kesal. Sebenarnya nilai passing grade-nya yang mana yang digunakan untuk menentukan standard kelulusan LPDP?? Masa setiap orang punya standard passing grade yang berbeda?? Terus yang lulus itu kemarin skor mereka berapaaaa?? Haaa? HA! Hahahaha oke, enggak lucu kalau udah mulai marah-marah sendirian.

Tadi-nya saya mau langsung tulis blog mengenai hasil LPDP dan inkonsistensi standard passing grade mereka. Namun setelah diskusi dengan kawan-kawan, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba mencari jawaban dengan bertanya langsung ke pihak LPDP. Pertama, saya mencari bukti-bukti passing grade yang berbeda dari sesama kawan peserta BPI di Batch 1 tahun 2016 dan memohon ijin untuk menggunakan data mereka sebagai bukti yang bisa ditanyakan ke pihak LPDP. Kedua, saya menelpon call center LPDP di 1600652. Setelah bercakap dengan operator mereka, saya disarankan untuk mengirimkan email beserta bukti-bukti. Ketiga, saya pun menulis email.

 

This slideshow requires JavaScript.

Bapak/Ibu Panitia Seleksi Beasiswa LPDP Ysh,

Menindaklanjuti hasil percakapan di telepon dengan operator LPDP pada tangal 6 April 2016 pukul 13.30 WIB mengenai pertanyaan saya terkait passing grade kelulusan LPDP pada Batch 1 tahun 2016, bersama email ini saya sampaikan hal-hal sebagai berikut:
  • Saya yang mengajukan permohonan:
    Nama                : XXXXXXX Utami
    No. KTP            : XXXXXXXXXX
    Kode Registrasi : 0000780/SS/M/2/lpdp2016
    Bidang               : Sosial
  • Setelah melihat hasil saya dan nilai passing grade yang telah ditetapkan pada bidang 3 saya mencoba memahami mengapa saya tidak lolos karena memang nilai saya tidak mencukup persyaratan (skor total 822,99 dan passing grade 850).
  • Namun, saya melihat hasil ppid teman-teman saya yang lain dimana kami sama-sama mengikuti batch 1 di tahun 2016 dengan proporsi passing grade yang berbeda. Yang paling mencolok adalah passing grade di bidang 3, di hasil teman-teman saya nilai yang tertera berbeda mulai dari 800, 825 hingga 830.
  • Menanggapi perbedaan tersebut, saya mengajukan email permohonan atas konsistensi dari hasil passing grade yang ditetapkan oleh Panitia LPDP serta penjelasan mengenai perbedaan passing grade di keseluruhan bidang dari hasil ppid yang diterima oleh peserta seleksi BPI LPDP.
  • Terlampir disampaikan dokumen pendukung dan bukti mengenai hasil yang berbeda tersebut. Untuk data diri di dokumen selain milik saya di blur untuk melindungi informasi data diri mereka, mengingat kawan-kawan saya memiliki kesempatan kedua untuk mendaftarkan LPDP dan kemarin adalah kesempatan terakhir saya. Mohon pengertian dari Bapak/Ibu Panitia.
Saya pribadi berusaha memahami ketelodoran yang dibuat oleh panitia LPDP mengenai konsistensi passing grade. Dengan beban tugas yang banyak serta tanggung jawab yang diemban untuk memilih anak Indonesia yang paling tepat untuk diberikan investasi berupa dana pendidikan, saya percaya hal tersebut bukan tugas yang mudah.
Namun, sebagai seseorang yang sama-sama bekerja di pemerintah, saya diajarkan untuk tidak mentolerir ketelodoran. Deputi saya mengajarkan untuk zero tolerance dimulai dari hal-hal administratif semacam salah ketik bahkan salah tanggal. Apalagi mengenai hasil dari seleksi yang telah dijalani oleh ribuan peserta untuk membuktikan diri pada seleksi LPDP.
Akhirnya insiden ini memunculkan pertanyaan di benak saya… Berapakah nilai yang telah didapat dari para awardee yang telah lolos kemarin?
Selama ini hasil dari seleksi LPDP tidak pernah dipublikasikan secara transparan dan hanya diinfokan lulus atau tidak lulus. Apakah memungkinkan apabila kami mengetahu keseluruhan nilai dari peserta LPDP?
Email ini saya kirim tidak hanya untuk pemenuhan rasa penasaran pribadi tetapi juga mewakili keresahan yang dirasakan oleh kawan-kawan saya sesama peserta LPDP.

Demikian email ini saya sampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu Panitia LPDP yang baik saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,
Itu adalah email pertama saya. Yes, ada typo, emang sengaja. Supaya tahu gimana rasanya kalau ada hal yang salah itu enggak enak dilihat mata.
Kemudian saya mendapatkan balasan seperti ini:

 

Kepada Sdr. Tammi Prasetyo
Selamat Siang,

Terima kasih sudah menghubungi LPDP.
Terimakasih atas pertanyaanya, perlu diketahui bahwasanya mulai 1 Januari 2016 terdapat kebijakan baru dalam Beasiswa LPDP, yaitu skor passing grade tujuan ke kampus Luar Negeri dinaikkan 5% atau 50 point untuk setiap layernya (kecuali program afirmasi).

Kemudian jawaban PPID diawal tahun 2016 memang belum semua disesuaikan sehingga terdapat beberapa perbedaan pecantuman skor diantara para penerima informasi PPID tersebut dan mulai 1 April 2016 ini semua informasi yang dkeluarkan akan seragam.

Kelulusan peserta seleksi beasiswa LPDP tidak semata-mata hanya dilihat dari pencapaian passing grade namun juga dari catatan interviewer independen serta psikolog, dan tidak semua informasi hasil seleksi substantif tersebut bisa kami lampirkan karena terkait undang-undang keterbukaan informasi yang didalamnya terdapat pula aturan informasi mana saja yang dikecualikan untuk dipublish. Mungkin cukup sekian tanggapan dari kami, mohon dipahami.

Apabila masih ada yang ingin dipertanyakan silahkan hubungi Kami kembali melalui email atau telepon yang tertera pada email ini.
Atas perhatian dan kerja sama yang baik Kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Customer Service Officer (DB)
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan RI

Sebenarnya, saya sudah menebak saya akan mendapatkan jawaban seperti ini. Sebagai sesama orang yang bekerja di pemerintahan, inkonsistensi nilai serta ada-nya miskoordinasi antara pihak LPDP dan PPID (sebagai penyambung informasi kepada pemohon) menunjukan ada suatu hal yang aneh. Ini cuman asumsi saya, tapi tidak mungkin PPID mengeluarkan nilai tanpa instruksi dari LPDP. Kemudian, yang aneh lagi adalah bahwa kelulusan tidak hanya berdasarkan skor penilaian tetapi ada penilaian lain seperti catatan psikolog dan interviewer independen. Dan LPDP menyatakan tidak semua informasi dapat dipublish karena terkait undang-undang keterbukaan informasi yang didalamnya terdapat pula aturan informasi mana saja yang dikecualikan untuk dipublish.

Honestly, it sounds very suspicious. Akhirnya saya pun memberikan jawaban seperti ini (yang dibalas dengan ucapan terimakasih):

Bapak/Ibu Panitia LPDP Ysh,

Terimakasih atas waktu dan perhatiannya untuk menyusun jawaban yang telah Bapak/Ibu sampaikan.

Saya menghargai keputusan yang telah LPDP tetapkan karena memang merupakan hak preogratif dari penyelenggara untuk menentukan batasan kelulusan. Bahwa memang benar untuk menyaring awardee yang berkualitas perlu lah sebuah standard yang tinggi.

Namun, ada beberapa hal yang saya sayangkan dan semoga bisa menjadi catatan Bapak/Ibu ke depannya.

Pertama, saya terima email mengenai hasil ppid pada tanggal 6 April sementara salah seorang teman saya yang berbeda passing grade nya di tanggal 5 April. Saya harap hasil yang konsisten memang benar-benar disampaikan setelah 1 April (yang nyatanya ternyata tidak).

Kedua, saya sendiri belum membaca tentang Undang-Undang mengenai Keterbukaan Informasi, namun saya percaya salah satu bukti integritas sebuah organisasi dapat dilihat dari pertanggungjawaban kinerja yang dilakukan. Dalam hal ini, proses dan hasil yang transparan tentu nya akan menjadi sebuah tanggung jawab publik yang baik terutama untuk mengetahui siapa-siapa yang menerima beasiswa. Hasil yang tidak transparan (tanpa mengetahui skor ataupun pertimbangan penerimaan) seringkali menjadi celah untuk hal yang tidak diinginkan. Dan tentu kami, sebagai publik, ingin mengetahui bahwa penerima dana beasiswa tersebut adalah orang yang layak.

Ketiga, sejujurnya saya menyayangkan kebijakan mengenai pembatasan pendaftaran yang hanya maksimal 2x seumur hidup. Saya pernah bertanya kepada seorang kawan yang bekerja di LPDP mengapa ada aturan tersebut karena kata beliau, mereka yang sudah 2x mencoba dan masih gagal tentu-nya dianggap tidak berkualitas karena menyia-nyiakan kesempatan kedua. Padahal banyak kasus di percobaan ketiga atau keempat seseorang baru bisa mendapatkan beasiswa. Mungkin hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan LPDP ke depannya mengenai aturan pembatasan maksimal 2x pendaftaran seumur hidup (apakah hal ini berimplikasi bagi mereka yang gagal di BPI Master dan tidak bisa melanjutkan untuk kuliah S3?).

Akhir kata, saya sendiri memahami LPDP sebagai sebuah lembaga baru yang terus berusaha memperbaiki diri dan berkembang. Dan masukan yang telah diberikan (dan saya yakin email ini pasti banyak mendapatkan saran dan kritik juga) dapat dipertimbangkan untuk perbaikan LPDP ke depannya.

Terimakasih kami ucapkan.

Jawaban untuk LPDP saya ketik ketika saya dalam perjalanan menuju tempat rapat di kota sebelah. Ada banyak pertimbangan saya akhirnya memutuskan untuk ‘lebih kalem’ dalam menanggapi email LPDP yang suspicious itu (walaupun saya tetap menyatakan keheranan saya di dalam email).

Menyimpan energi negatif itu sangat sangat tidak enak. Padahal ada banyak hal yang harus saya kerjakan dan menjadi fokus dari energi saya. Seperti pekerjaan di kantor dan fokus untuk mengetuk pintu lainnya. Saya ingat di hari-hari menunggu pengumuman LPDP saya berdoa kepada Tuhan, kurang-lebih seperti ini: Apabila memang LPDP bukan rejeki saya, saya telah berjuang dengan usaha terbaik saya, dan saya percaya Tuhan memiliki rencana yang lebih baik dari yang saya kira. 

Saya juga berdiskusi dengan seorang kawan dan akhirnya menyimpulkan, mendapatkan beasiswa dan melanjutkan sekolah hanya-lah tools dari tujuan yang sebenarnya. Jadi penting untuk fokus terhadap tujuan dibandingkan meratapi kegagalan. Ada banyak cara menuju Roma atau Belanda atau Australia hihihi. Yah walaupun jalannya masih berputar-putar tapi apa yang saya alami menunjukan Tuhan percaya saya cukup kuat untuk melalui ujian-ujian ke depan.

Dan kenapa saya masih menulis tentang ini di blog? Tentu saja untuk berbagi kepada kalian semua 🙂 It’s still part of my healing process. Saya menulis bukan sebagai #timsakithati dan bukan juga untuk menakut-nakuti mereka yang sedang dalam proses mendaftar beasiswa LPDP. Enggak ada salahnya mencoba dan berusaha. Namanya juga rejeki, enggak ada yang tahu rejeki kita di pintu yang mana. It’s all about cocok-cocokan. Yah macam mencari jodohlah. Tapi pesan saya cuman satu, pintu rejeki itu enggak cuman satu.

Have a nice day everyone 🙂

Ps: Buat kamu yang mau mencoba LPDP proporsi penilaian adalah sebagai berikut (ini asumsi dan masih bisa berubah ke depannya) 70% esay, 15% OTS dan 15% LGD. Dengan total poin 1000. So, you know what you have to do, right? 🙂 goodluck!