Not-So-Coffee-Journey

I am not a coffee expert. Speak to be honest, gue gabisa minum kopi banyak-banyak karena punya penyakit asam lambung akut. Tapi semenjak pindah ke kantor baru, gue punya kebiasaan untuk minum kopi setelah makan siang. Yang jelas bukan kopi item sih. Sebelumnya kemampuan bikin kopi gue sebatas kopi sachet. Tapi karena di kantor baru tersedia krimer dan nescafe classic, maka gue pun punya racikan kopi ala ala untuk dinikmati menjelang sore hehe.

Racikannya adalah: 1 sendok teh nescafe classic, 2 sendok teh krimer dan 2 sendok teh gula. Diseduh air panas mendidih. Namun karena krimer lagi out of stock, akhirnya diganti dengan susu full cream. Which for me, more delicious!!

Anyhow, speaking about coffee, dalam waktu 2 minggu gue mengunjungi coffee shop yang lagi hitz akhir-akhir ini.

Coffee shop yang pertama adalah Filosofi Kopi. Yes, you heard it. After a massive success of the short story, then the story became a film. Sejauh ini film Filosofi Kopi adalah film adaptasi paling bagus dari film-film lain yang diadaptasi dari karangan Dee. Dan akhirnya si coffee shop tempat shooting Filosofi Kopi pun beneran dijadikan coffee shop.

Ucen yang kepanasan jadi gosong :p
Ucen yang kepanasan jadi gosong :p

Jadi waktu main-main ke Little Tokyo kemarin sebenarnya toko pertama yang didatangin adalah Filosofi Kopi. Alasannya adalah sebenarnya gue enggak kuat panas dan siang itu udara panas banget. Jadi ceritanya mau ngadem dan Filosofi Kopi jadi pilihan karena penasaran banget sama tempatnya.

Angga, the director of Filosofi Kopi, himself who manage the coffee shop
Angga, the director of Filosofi Kopi, himself who manage the coffee shop

Tempatnya enggak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk ngobrol. Ya sayangnya barista-nya bukan Chicco Jerikho juga ya hahhaa. Untuk rasa kopi? Please don’t ask me secara gue bukan coffee expert. Tapi untung aja sih gue dateng ke Filosofi Kopi duluan baru ke Giyanti.

Yes people, tempat kedua yang gue datangin adalah Giyanti Coffee Roastery!  Setelah dengan kabar burung kalau Giyanti Coffee merupakan hidden gem di Jakarta dan masuk top list para pencinta kopi, gue pun ingin membuktikan sendiri keabsahannya. Di zomato sendiri score Giyanti sangat tinggi sampai 4,8! What?

Untuk lokasi-nya sendiri enggak jauh dari kantor gue sebenarnya tapi jam buka-nya kurang bersahabat karena hanya buka hari Rabu – Sabtu jam 09.30 – 17.30. Kebetulan Kamis kemarin lagi tanggal merah jadi gue dan adek gue, si Dita, menyambangi coffee shop ini.

Untuk tempatnya bisa pilih indoor atau outdoor. It’s a full house! Untuk dapet tempat. Suasana-nya sedikit mengingatkan gue sama kedai-kedai di Bali yang santai. Untuk tempat ngobrol atau menyendiri, yep, this is the place. Gue sendiri kemarin pesan cappuccino dan cheese-choco brownies. Sekali lagi gue bukan coffee expert but now I agree with my friend when she said “the other coffee taste like a joke after you come to Giyanti”.

Cappuccino and cheese-choco brownies
Cappuccino and cheese-choco brownies

Gue percaya sih setiap orang punya selera-nya masing-masing dan enggak bisa disamain. Terlepas dari rasa kopi-nya yang “nendang” banget itu, I fall in love with the cheese-choco brownies. Itu enaaaaaak pake banget!! Ngapain sih orang jauh-jauh ke Bandung beli brownies, ke Giyanti aja #jadiiklan hahaha. Sayang-nya untuk menu chicken pie baru bisa dipesan hari Sabtu.

Filosofi Kopi
Pusat Niaga Blok M Square, Melawai, Jakarta Selatan
Click to add a blog post for Kedai Filosofi Kopi on Zomato
Giyanti Coffee Roastery 
Jalan Surabya No. 20 Menteng, Jakarta Pusat
Click to add a blog post for Giyanti Coffee Roastery on Zomato

In The Name of Freedom

Speaking about social movement, ada banyak sekali isu sosial yang menjadi concern setiap orang. Mulai dari HAM, Feminisme, Buruh, Petani, LGBT, Anti Korupsi, you-name-it. Gerakan sosial saat ini sudah memasuki fase yang berbeda dibanding dulu. Era demokrasi saat ini benar-benar mendukung kebebasan berpendapat. Apalagi di era media sosial seperti saat ini. Namun, satu hal yang gue lihat. Pro dan kontra pun terlihat lebih jelas. Pertarungan pendapat sengit tak terelakan. Semua penting. Semua benar. Dan tidak ada yang mau mengalah.

I do believe gerakan sosial itu muncul berawal dari urgenitas. Ada satu kelompok yang merasa tidak terwakili kepentingannya sehingga mereka menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami. And somehow play victim. Membuat perubahan itu tidak mudah. Apalagi merubah persepsi atau pandangan yang sudah mengakar di masyarakat.

Salah seorang kawan menyuarakan kekecewaannya di Path ketika “perbedaan” yang dia alami tidak diterima orang lain. My friend is a transgender, he once a girl and now a man. He said: kenapa orang yang terpelajar dan memiliki wawasan luas tidak terbuka pikirannya. Entah kenapa siang itu gatal untuk mengomentari postingannya. IMHO, walaupun terpelajar dan memiliki wawasan luas kita harus menerima yang namanya perbedaan prinsip. Kita tidak bisa memaksakan prinsip/pendapat kita untuk diterima oleh orang lain.

The world is unfair. Selamanya kita akan menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Merubah sistem butuh waktu dan konsistensi yang sangat tinggi. Dan bagaimana melakukan perubahan itu sendiri? It ain’t easy for sure untuk mengharapkan keadilan hukum. Karena LGBT bukan penyakit dan masih sama-sama manusia. Menjadi berbeda bukan berarti mendapatkan perlakuan yang berbeda karena di mata hukum semua sama.

Sayang, dunia tidak se ideal itu.

Adaptation /ˌæd.əpˈteɪ.ʃən/ 

[Noun] The process of changing to suit different conditions.

Memasuki bulan ketiga pindah ke kantor baru. Bohong kalau gue bilang adaptasi-nya lebih mudah. Yeah, life seems easier. The first two weeks was the most peaceful I ever had. But surely it has different challenges. Dan lagian ya baru dua bulan kan yah, I believe pasti punya obstacle sendiri dalam setiap tempat kerja.

Karena perubahan itu pasti, maka mau tidak mau gue pun turut beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Walaupun sama-sama instansi pemerintah, tetep aja tiap tempat kerja punya karakteristik yang berbeda (walaupun serupa). Hal yang paling mencolok adalah jumlah tenaga kerja. Dulu di eselon II tempat gue bekerja jumlah pegawai-nya bisa mencapai 100 orang (saking banyaknya). Di tempat gue sekarang..*itung pakai jari* 25 orang pun ga nyampe!

Kalau dulu gue terbiasa dengan suasana ruang kantor yang hingar bingar. Teman yang duduk di kanan dan kiri menyalakan radio. TV selalu memutar acara (entah berita atau film). Setiap jam bisa ada tukang jualan (you name it, mulai dari jajanan pasar sampai sprei!) yang lewatin dan nawarin barang dagangannya. Belum lagi kalau mulai heboh gossip atau ngobrol. Seramai itu. Dan kemudian suasana kantor gue yang sekarang semua orang sibuk dengan layar komputer masing-masing. Tidak ada suara musik atau tv. Hanya keheningan dan sesekali nada pelan orang menanyakan kerjaan kemudian sibuk kembali. Krik krik krik…. Seminggu pertama gue shock dengan kesunyian dan ketenangan itu.

Adaptasi yang kedua adalah perubahan jam kerja. Ya, jam kerja pada umumnya memang jam 8 sampai jam 5 sore. Tapi, hidup gue enggak umum. Dua tahun bekerja di kantor yang dulu membuat gue menjadi mahluk nocturnal. Pulang jam 7 malam dianggap kesorean. Pulang jam 5 tenggo merupakan anugerah. But most of the time, I went home late at night. Bahkan sering pulang pagi. Bukan cuman anak agency atau akuntan aja yang bisa pulang pagi kok hihi. Siapa bilang working in government ga bisa bikin pulang pagi. Duty call, baby.

Dua minggu pertama bisa pulang on time dan tenggo rasa-nya seperti ada yang hilang. Hari-hari pertama sih berasa surga. Hari berikutnya seperti ada yang salah. Tanpa sadar gue mulai mencari kesibukan. Bukan berarti di kantor baru enggak sibuk. Tempat kerja baru gue bener-bener sangat efisien. I can finish my report or write less than 3 hours (sejauh ini sih yaa hihi).
Hingga pada suatu hari gue melakukan sesuatu yang gila. Senior gue di kantor yang dulu menyampaikan dia butuh bantuan untuk menyelesaikan sebuah project besar (yang gue tinggalkan kala itu karena pindah kantor hahahaha). Penyakit di kantor dulu adalah walaupun punya banyak pegawai tapi yang kompeten dikit (atau yang dipercaya kompeten). Jadi sampai gue yang pindah kantor dimintain tolong. Dan gue menyanggupi. Kenapa? Gue rindu sibuk dan pulang malam. Yes. Call me crazy. So, for almost 10 days (include weekend), I work at two places. Jam 8 – 5 di kantor baru. Jam 5 sore sampaiiiii 1 pagi or pernah sih 3 pagi hahaha di kantor lama. I think that’s a proper farewell to my former office. I’m glad I still have a chance to join the mission and finish it together with them.

Adaptasi selanjutnya adalah gue terpacu untuk mengikuti perkembangan isu substansi yang di handle kantor baru gue. Berbeda dengan kantor dulu yang isu-nya adalah bukan-topik-yang-gue-suka, isu di kantor baru adalah sesuatu yang gue suka dari dulu! Emang bener ya, kalau lo suka sesuatu pasti ngelakuinnya dengan semangat. Itu yang gue rasa sekarang. Now, I am hungry for every information. Kalau kata Gilang ini seperti kuliah tapi digaji (haha).

Di kantor baru juga gue cenderung lebih hemat. Itu semua karena pengaruh lingkungan sebenarnya. Salah satu sifat jelek gue adalah gue orangnya sangat boros. Dulu mah enggak pernah gue ngitung berapa duit yang masuk dan berapa duit yang gue hambur-hamburkan. Walaupun enggak sampai terjerat hutang segala tapi jeleknya adalah gue enggak punya saving. Itu adalah penyesalan terdalam gue.

Ya tapi percuma menyesal aja kalau enggak berubah. Alhamdulilah, lingkungan baru gue sangat mendukung untuk menjalankan misi #TamiHidupHemat2015. Mulai dari harga-harga makanan yang lebih murah. Gue pun sekarang lebih suka bawa lunchbox dari rumah. Minimal nasi lah, jadi tinggal beli lauk aja. Trigger perubahan ini adalah karena diskusi di suatu siang bersama kawan-kawan terkait pengaturan keuangan. Tentang orang yang hidup-nya boros banget, gaji-nya lebih gede tapi masih harus pinjem uang ke orang lain di akhir bulan. Belum lagi ada kawan gue yang cerita dia lagi menabung buat biaya umroh. Duh, malu sekali rasa-nya. Gue yang udah lebih dulu kerja dibanding dia (si temen itu fresh graduate) enggak pernah pikir panjang soal uang. Tabungan kala itu lagi di titik rendah. Enggak mungkin gue terus-terusan mengandalkan safety net untuk melanjutkan hidup. Katanya mau hidup mandiri? Tapi gak punya tabungan? Hih.

Di titik itu lah gue sadar bahwa gue harus punya kemampuan smart finance management. Segede apapun penghasilan gue kalau gue enggak bisa ngatur-nya, ya bakal sama aja bohong. Hihi. Dan gue percaya hidup sederhana enggak akan bikin hidup susah 😀

11203119_370236809842700_9197267758870555737_n

Dan ya gambar dari Mice Cartoon di atas cukup menampar gue sih hihi. Terlebih lagi OB di kantor gue bahkan di kampung punya rumah 3! Men! Itu semakin memacu gue untuk dapat hidup hemat *anaknya suka gamau kalah*. Mungkin bukan sekedar hemat sih tapi harus smart. Smart spending and smart saving. Menurut gue jangan juga sampai nyiksa diri dengan enggak makan atau gimana. Gue tetep makan normal dengan bawa bekel dari rumah. Makanan dari rumah udah pasti kejaga kualitas dan nutrisi-nya. Bahkan gue bawa snack sendiri! Gue baru ngeh orang-orang di rumah suka banget belanja makanan tapi ga pernah dimakan (now I know where the bad habit comes). Gue juga masih tetep hang out sama temen gue. Mungkin enggak akan sesering dulu. Hohohoho.. Yeah anyway, it feels good. 😀 But the most important thing is commitment. Harus commit dan persistent untuk menjaga pola hidup seperti ini walaupun udah berkeluarga dan berpenghasilan lebih besar lagi hihi.