Master of None – Too Good to be Real

master-of-none-netflix-2

Semenjak nonton stand up comedy Aziz Anshari di Netflix di suatu malam yang dingin dan hidung mampet, akhirnya memutuskan untuk menonton Master of None. To be honest, episode-episode awal di season 1 jalan cerita-nya cukup aneh. Aneh karena terlalu real dan apa ada nya. Walaupun beberapa actor di awal berakting dengan awkward (and yes, yang jadi orang tua-nya Dev adalah real parents of Aziz himself), tapi menurut gue itu nilai lebihnya. Being real. Akhirnya hal itu yang membuat gue terus melanjutkan menonton episode selanjutnya.

Di season 1, ada satu jalan cerita yang menurut gue cukup menyentil perempuan galau berumur mid-20 yang sedang hidup sendiri di down under: masalah jodoh. Di episode-episode akhir season 1 diceritakan si Dev udah punya pacar namanya Rachel. Ketika mereka berdua datang ke pernikahan salah seorang teman, saat itu lah Dev berpikir apakah hubungan pacaran mereka (yang tergolong serius karena sudah tinggal bersama) akan bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan? Its thousand dollar question for everybody, I guess. At this age, ketika lo sedang menjalin hubungan dengan seseorang, that seseorang is most likely end up to be the one you’ll get married. Yet, if you never have a picture of you and yourself get married with that seseorang, it is also hard to end up the relationship since you know you love that seseorang. You already invest your time, effort, love and many things to be together.

This episode remind me with one of many reasons why I finally broke up with my last boyfriend (hi H, just in case you reading this). One time, we just went to the mall and there is Payung Teduh played in one of the corner. Entah acara apa ya. Dulu gue selalu berpikir, romantis rasanya nonton payung teduh kalau sama pacar. Nah tapi entah kenapa saat itu rasanya malah… awkward. As in, there’s something wrong that I felt. Wrong feeling, wrong situation, wrong person? At that time, no matter how hard I deny the feeling, I know this guy is not someone that I want to spend my life with. But just like Dev, it is hard to have a break-up. Even, ketika lo udah putus, kenapa banyak orang yang akhirnya balikan lagi karena (menurut teori dan asumsi gue) you tend to stick with ‘familiar’ things rather than to go out and have adventures to find something new.

And when you know, you know that it won’t work anymore. Kalau kata Shawn Mendes,

Cause we can’t fix what’s broken
And I know it’s gonna hurt
But darling I’ll go first
Cause I won’t keep on saying those three empty words

Speaking of relationship. Gue belajar banyak dari relationship terakhir gue, bahwa penting untuk mengejar kebahagiaan diri sendiri. Terkesan egois, maybe. But, you just can’t lie if your feeling is not there anymore. I’d rather go and find my own happiness rather than stuck in unhappy relationship. Like literally go, pergi ke Australia misalkan 😀 Life is too short to stuck in a place that make you don’t grow. 🙂

Well, balik lagi ke Master of None. This is one of my favourite series. And season 2 is just getting much much better! Salah satu episode-nya bahkan wins Emmy for Outstanding Writing for a Comedy Series! Can’t wait for season 3. ❤

My Lawyer Mr Jo/Neighborhood Lawyer Jo Deul Ho (KDrama Review)

Neighborhood-Lawyer-Jo-Deul-Ho-Poster2

Kalau mau nonton serial Korea yang (lumayan) lakik banget dan keluar dari jalur mainstream (romance ala Korea).. you can watch this series. My Lawyer Mr. Jo atau Neighborhood Lawyer Jo Deul-Ho.

Serial yang terdiri dari 20 episode ini menceritakan Jo Deul-Ho sebagai tokoh utama, seorang Neighborhood Lawyer (kalau disini pengacara yang nanganin kasus-kasus pro bono). Di episode pertama Jo Deul-Ho awalnya adalah seorang jaksa yang terkenal dengan keganasannya dan tidak kenal ampun, namun di saat sedang menangani kasus yang melibatkan seorang pengusaha (CEO Jung) akhirnya Jo Deul-Ho malah justru dituduh menerima sogokan. Hingga akhirnya Jo Deul-Ho harus dipecat dari jaksa, kariernya hancur, di saat yang bersamaan diceraikan oleh istri-nya sampai dia menjadi homeless.

neighborhood-lawyer-jo-deul-ho_160328_1276.07

Setelah tiga tahun hidup menggelandang di jalanan, Jo Deul-Ho berubah menjadi orang yang ignorance karena institusi yang dia percaya selama ini justru mengkhianati diri-nya. Namun secara tidak sengaja, Jo Deul-Ho bertemu kembali dengan “adik”-nya, Kang Il Go, (sebenarnya Jo Deul-Ho adalah seorang yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan dan memiliki banyak adik asuh) yang sempat menjadi tersangka terhadap kasus kebakaran pabrik yang menyebabkan kematian seorang tuna wisma.

Kang Il Go bukanlah tersangka sesungguhnya melainkan Michael Jung, anak dari pengusaha CEO Jung. Kasus itu lah yang menyebabkan Jo Deul-Ho dipecat dari pekerjaannya sebagai jaksa. Hingga muncul tersangka baru, yang juga merupakan tuna wisma, yang dituduh melakukan pembakaran dan pembunuhan di pabrik tersebut. Setelah reuni sebentar, Kang Il Go tiba-tiba menjadi korban tabrak lari dari truk yang “tidak” sengaja melintas. Di situ lah Jo Deul-Ho tergerak untuk menjadi pengacara pembela dari tersangka baru untuk membuktikan bahwa pelaku sebenarnya adalah Michael Jung.

Awalnya serial ini terkesan ingin menunjukan bagaimana mereka yang punya uang memiliki power lebih untuk mengatur hukum. Dilihatkan CEO Jung yang merupakan pengusaha yang membuat image dirinya sebagai pilar ekonomi Korea dapat mengatur jaksa-jaksa, membeli orang, sehingga memudahkan bisnisnya berjalan cepat tanpa halangan.

Tapi penyakit yang sesungguhnya adalah ketika si penegak hukum atau mereka yang memiliki jabatan politik telah dibutakan oleh uang dan kekuasaan sehingga mau melakukan apa saja untuk meraih jabatan tertinggi.

Yang awalnya Jo Deul-Ho berusaha untuk mengungkapkan praktik-praktik ilegal dari usaha CEO Jung hingga mengungkapkan kasus korupsi yang terjadi di Kantor Kejaksaan Tinggi Korea.

And what I love most dari film ini adalah sisi-sisi humanity yang ditonjolkan. Karena kasus yang ditangani adalah membela mereka yang lemah (tuna wisma, pemilik usaha makanan yang diusir paksa dari kontrakannya, ibu-ibu yang anaknya meninggal karena salah guna minuman kalengan), jadi banyak hal yang bikin gue berkaca-kaca.

Film ini juga menunjukan menumpas kasus korupsi enggak semudah itu, terutama ketika mereka yang terlibat adalah orang terdekat. Sehingga muncul pertentangan values antara prinsip untuk menegakan hukum tapi di satu sisi ingin melindungi harga diri keluarga.

Salut banget dengan aktor-aktris yang mainnya totalitas disini. CEO Jung yang diperankan oleh Jung Won-Joong bagus banget mainnya hingga yang awalnya benci setengah mati sama dia terus berujung jadi kasian karena punya anak gak tau diri kayak Michael Jung hihihi.

I gave this series 4,2/5

jodeulho16-00310
The Dream Team